Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Buya Masoed Abidin's Site

HomeAhlan wa Sahlan ... yaa akhuna fillah....May 12, 2008
Assalamu 'aleykum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh,
Mengejar redha Allah SWT komunikasi ini kita lanjutkan dengan ikhlas. Ada pesan Rasulullah SAW, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia menghubungkan silaturrahim, ... hendaklah dia menghormati tamunya..., hendaklah dia berkata yang baik atau diam saja...". Moga kita semua aberada dalam redha Allah. Amin.
Wassalam Buya HMA


zikrullah

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut) Nama Allah, zikir dengan sebanyak-banyakya."

(Q.S. Al Ahzab: 41)

Salah satu cara agar selalu terjaga komunikasi dengan Allah adalah dengan berzikir (Zikrullah). Zikir secara harfiah berarti ingat dan sebut. Ingat adalah gerak hati, sedangkan  sebut adalah gerak lisan.

Zikrullah berarti mengingat Allah, baik itu dengan zikrul lafzhy berzikir dengan lidah dan zikrul ma'nawy berzikir dalam hati dengan makna menyadari nikmat Allah dan mengiringi dengan perbuatan amaliyah yang disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kedua bentuk zikir ini tidak dapat dipisahkan, ia saling berkaitan satu dengan lainnya. Idealnya zikir itu berangkat dari kekuatan hati ditangkap oleh akal,dan diucapkan dengan lisan, lalu dibuktikan dengan ketaqwaan dalam  amal nyata di dunia ini.

Zikir adalah perintah Allah kepada orang-orang yang beriman untuk senantiasa  berzikir mengingati nikmat Allah SWT. Maka berzikir berarti menelusuri ketaatan  kepada melaksanakan perintah Allah.

Prakteknya, zikir bisa dilakukan dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring.


Allah SWT berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

"Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah (fazkurullaha) di waktu berdiri, di waktu duduk, dan diwaktu berbaring …" (Q.S. An Nisa' : 103)

Tempat zikir berada di dalam hati, bukan diujung lidah semata. Ketika qalbu menjadi khusyu', khudhu', tadharru', tawadhu', dan yang melahirkan rasa khauf dan raja', dilakukan di setiap kesempatan, pagi dan petang, siang dan malam.

Allah SWT berfirman :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

"Dan sebutlah (Nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengerasakan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (Q.S. Al-A'raf: 205)

Zikir adalah pangkal ketentraman, ketenangan dan kedamaian. Allah adalah sumber ketenangan dan kedamaian. Mencapai kedamaian dan ketenangan itu jalannya adalah mendatangi sumbernya dan membersamakan diri dengan-Nya.

Zikir itulah jalan pembersamaan (ma'rifatullah).

Allah SWT berfirman:

... أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

"… Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…" (Q.S. Al Baqarah: 152).

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram." (Q.S. Ar Ra'd: 28)

Meninggalkan zikrullah berarti ia telah membuka keleluasaan syetan untuk menguasainya.

Allah SWT berfirman:

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

"Syetan telah menguasai mereka dan menjadikan mereka lupa mengingat Allah (zikrullah); mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi."  (Q.S. Mujadilah: 19)

 "Ketahuilah bahwa orang-orang yang memandang dengan cahaya bashirah mengetahui bahwa tidak ada keselamatan kecuali dalam pertemuan dengan Allah SWT.

Tidak ada jalan untuk bertemu Allah kecuali dengan kematian hamba dalam keadaan menyintai Allah dan mengenal Allah (hubbullah dan ma'rifatullah).

Sesungguhnya cinta dan keakraban tidak akan tercapai kecuali dengan selalu mengingat yang dicintai.

Sesungguhnya pula pengenalan kepada-Nya tidak akan tercapai kecuali dengan senantiasa berfikir tentang berbagai penciptaan, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Hubbullah dan ma'rifatullah hanya dapat dicapai dengan mengoptimalkan waktu-waktu malam dan siang untuk bertafakkur dan berzikir. "

Begitu di antara pandangan Hujjatul Islam Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya 'Ulum Ad Din.

Marilah kita isi Ramadhan kita dengan banyak berzikir mengingati banyaknya nikmat Allah yang telah kita terima diiringi dengan istighfar sesungguh keikhlasan hati dan kurangilah sikap buruk yang selalu dianjurkan syaithan kepada kita, jauhilah bersikap suka mengumpat, suka menghasut dan  banyak berbuat fitnah.

Semoga Ramadhan kita tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Amin. Wa Allahu A'lam bissawab


Wassalam, Buya H. Masoed Abidin


--
Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min sakhati-ka wa an-naar
Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa sabaquuna bil-imaan,wa laa taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu Rabbana innaka ghafuurun rahiim.


Blog EntrySep 7, '08 2:19 AM
for everyone
RAMADHAN BULAN PEMBAWA NIKMAT

      Kesempatan untuk bisa menunaikan ibadah secara khusyuk dan tertib,  merupakan nikmat Allah yang besar.

      Ibadah bernilai spiritual menjadi akar pembentukan sikap terpuji seperti; disiplin waktu, cinta kebersihan, sehat fisik, taat aturan, tuma'ninah (teratur), memiliki kesadaran prima (kontroling), bersikap hati-hati, tabah dan setia.

     Sikap-sikap yang diperlukan mengarungi kehidupan kini dan menatap keberhasilan masa depan (dunia dan akhirat). Teranglah orang yang lalai dalam ibadahnya, cenderung akan melalaikan tugas-tugas yang ada didepannya, dan amat mudah untuk mengkhianati amanah yang dipetaruhkan padanya.

      Ramadhan adalah bulan mulia yang selalu dinanti  secara khusus dan penuh kegembiraan. Bulan ibadah dan bulan pengampunan. Penyambutannya membekas pada adat kebiasaan anak negeri, khususnya di beberapa daerah yang masih kokoh dengan budayanya di Minangkabau.


Ramadhan adalah penghulu sekalian bulan. Orang Minang menyebutnya  "bulan basaha" (saha = sahur, satu bentuk Sunnah Rasul yang diujudkan dalam makan parak siang sebelum terbitnya fajar, menurut bimbingan ibadah shaum (puasa) mendahului imsak).


Tatkala Ramadhan datang menjelang, Rasulullah SAW menyambut dengan ucapan  marhaban bil-muthahhir, artinya, "selamat datang wahai pembersih". Sahabat bertanya,"Wa mal muthahhiru ya Rasulullah?, (siapa yang di maksud pembersih itu, wahai Rasulullah?)". Rasulullah SAW menjawab "al-muthahhiru syahru Ramadhana, yuthahhiruna min dzunubii wal ma'ashiy (pembersih itu adalah Ramadhan, dia membersihkan kita dari dosa dan ma'shiyat)".


Marhaban adalah kata yang kerap dipakai untuk menyambut dan menghormat tamu yang mulia. Bermakna ungkapan selamat datang. Ucapan itu tersirat makna yang dalam Kegembiraan menyambut bulan basaha itu, diiringi kesiapan dan kelapangan waktu, keluasan tempat untuk melakukan tindakan yang berkaitan dengan mengasuh dan mengasah jiwa menuju kebersihan bersamanya.


Bersihnya diri adalah bukti ketaqwaan seseorang. Puasa (shaum) sebagai satu ibadah khusus di bulan Ramadhan, berperan membersihkan diri  pelakunya. Sesuai firman Allah :"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu (pengikut Taurat dan Injil) agar kamu bertaqwa (tetap terpelihara, bersih dari dosa dan makshiayat)".  (QS.2, al Baqarah,ayat 183).

      Ramadhan adalah bulan turunnya Al Quran yang berisi petunjuk, bimbingan, pembeda antara benar dan salah, penjelasan tentang paradigma hidup manusia.

       Memasuki bulan Ramadhan wajib melaksanakan ibadah shaum (puasa). Meski sakit sekalipun, kewajiban puasa tidak gugur. Allah memberikan keringanan( rukhsah), berupa keizinan untuk mengganti puasa Ramadhan  dengan berpuasa dihari (bulan) lainnya. Kalaupun masih tidak sanggup, karena sakit menahun, yang menyebabkan tidak bisa berpuasa, maka dapat digantikan dengan membayar fidyah (memberi makan orang miskin). Kondisi ini  berlaku terhadap orang sakit (tua),yang tidak sanggup untuk berpuasa. Ketentuan Allah ini merupakan kemudahan bagi manusia.

      Ajaran agama (Islam) sama sekali tidak memberatkan. Sehingga tidak ada alasan seseorang menolak melaksanakannya jika ia sebenar-benar mempercayai (mukmin). Pada hakekatnya puasa adalah ibadah khas yang membuktikan  seorang benar-benar beriman (mukmin) serta mampu bersyukur (berterima kasih) kepada Allah yang telah menjadikan dirinya dan memberikan segala sesuatu keperluan yang diperoleh dalam hidup ini (jelasnya baca: Al Quran,Surat Al Baqarah (2) ayat 184-187).

     Selamat menunaikan ibadah Ramadhan.

     Wassalam Buya H Masoed Abidin <masoedabidin@yahoocom>

----
Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min sakhati-ka wa an-naar
Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa sabaquuna bil-imaan,wa laa taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu Rabbana innaka ghafuurun rahiim.


Berakhlak mulia adalah Buah Amaliah Ramadhan

 

Wahyu Allah mengingatkan, antara lain, "Dan tiadalah kami mengutus kamu (wahai Muhammad), melainkan untuk (menjadi) Rahmat bagi Semesta Alam". (QS. 21 ‑ Al Anbiya ‑ ayat 107). Jika Nabi Muhammad SAW tidak diutus sebagai Rasul, maka Alquran pun tidak akan pernah ada, dan kita tidak akan tahu, bagaimana bentuk kehidupan manusia di akhirnya.

Kebuasan binatang adalah soal biasa. Tetapi, kebuasan manusia akan menyisakan persoalan-persoalan, antara lain perkosaan manusia terhadap lainnya, pengrusakan alam lingkungan di obrak‑abrik oleh kebejatan moral manusia. Kita wajib bersyukur kepada Allah, yang mengutus Muhammad disertai Alquran, untuk mengangkat derajat manusia menjadi yang paling mulia di antara makhluk yang ada.

Ajaran Agama, mengarah kepada perubahan watak manu­sia, dan kepada tingkah laku dalam kehidupan. Ajaran agama, akan mengikat gerak dan jalan manusia. Ilmu pengetahuan agama, mempunyai satu tuntutan agar orang mengubah sikap dan tingkah lakunya, sesuai dengan perintah agama (perin­tah‑larangan dari Allah SWT), dalam semua persoalan hidup manusia, dengan menunjukkan cara menyelesaikan seluruh problematik kehidupan manusia. Ajaran agama (yang bersumber dari Allah, dengan pedoman Alquran), akan menyembuhkan penyakit yang melanda manusia, yang melanda masyarakat manu­sia, lantaran kejahatan atau kerusakan moral manusia sendiri. Segala penyakit dan wabah yang merusak nilai‑nilai kemanusiaan, akan disembuhkan secara total oleh ajaran agama, jika masyarakat manusia itu benar‑benar thaat mengikuti ajaran agama (Allah) itu.

Kitapun, sebagai manusia, berada di permukaan dunia ini, mempunyai satu tugas suci, selalu memelihara nilai‑nilai kemanusiaan kita, dengan cara yang ditetapkan oleh Maha Pencipta."Dan tidaklah diciptakan manusia dan  jin, melainkan hanya untuk pengabdian kepada KU (Allah)", (Alquran). Pengabdian kepada Allah (beribadah), adalah memung­sikan akal, dan menempatkan manusia pada konsentrasi yang benar. Di sini agama tidak hanya berurusan dengan masalah sesudah mati semata, namun juga mengatur hakekat hidup  manusia di dunia. Sebuah pertanyaan, sudahkah kita hidup sesuai dengan harkat itu? Kenalilah, bahwa Allah SWT telah memanggil dengan penuh kasih sayang‑Nya, masihkah hati mengelak jauh dari Ajaran agamaNya? Maka sahutilah segera, dengan amal kebaikan.

Dalam hubungan sesama manusia, ada ajaran agama agaru mengulurkan tangan membantu orang lain. Ketika banyak daerah kita dilanda musibah, maka membantu orang lemah sebenar­nya menjadi bukti akan kuatnya iman. Membiarkan orang yang lemah menjerit, sesungguhnya  memberi tahukan bahwa orang kaya dan mampu secara materi itu sebenarnya lebih lemah dari para dhu'afak yang menjerit tadi. Mereka orang berada itu sedang lemah, tidak berdaya melepaskan dirinya dari belenggu harta bendanya, sehingga mere­ka tidak sanggup menggunakannya untuk meringankan beban orang lain. Enggan membantu orang yang miskin, akan beraki­bat lebih jauh yakni Allah tidak memperhatikan orang kaya itu. Ketika suasana itu tiba, maka beban derita akan datang menghimpit hatinya. Na'udzubillah.

Nabi Muhammad SAW menasehat­kan kita semua dengan sabda beliau yang sangat dalam artinya "Man lam yahtamma bi ammril Muslimin falaisa minhum", artinya, Yang tidak mau tahu urusan sesama umat Muslim sebenarnya tidak pantas disebut kelompok Muslim. Begitulah Rasulullah SAW. Mudah‑mudahan kita tidak tergolong kedalam klasifika­si yang disebut Rasulullah SAW ini. Mari kita bantu Sauda­ra kita yang sebenarnya sangat menunggu bantuan kita, dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Allahumma Amin. ***

 

 

Allahumma Inna nas-aluka ridhaka wal jannah, wa na'udzubika min sakhatika wa an-naar. Allahummaghfir lana dzunubana wa kaffir 'anna sayyi-atina wa tawaffana ma'al-abrar.

MUSIBAH ITU DATANG KARENA LENGAH


" Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami musibah melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…" (Q.S. At Taubah: 51).

Musibah adalah ujian yang datang dari Allah SWT. Pada hakikatnya setiap manusia tidak menginginkan datangnya musibah, baik musibah hilangnya harta benda, kecelakaan, ataupun kematian. Baik musibah itu berupa ujian besar maupun kecil belaka. Akan tetapi, maklumilah bahwa ujian itu senantiasa akan datang kepada semua manusia bimana waktu saja. Walau manusia berupaya lari daripada musibah itu, namun iapun akan tetap jua datang menghampirinya.

Apabila ditinjau dari sisi takdir atau ketentuan dari Allah, memang Musibah terjadi atas izin dan ketentuan Allah semata. Tanpa izin dan ketentuan-Nya tidak mungkin musibah itu dapt terjadi. Manakala dilihat dari sisi kemanusiaan atau hukum kausalitas (sebab akibat), ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan Allah SWT mendatangkan musibah kepada makhluknya.

Pertama, karena manusia kurang peduli. Tidak mau bersedekah karena manusia terlalu cinta dan sayang terhadap hartanya, dan takut hartanya habis karena bersedekah. Berkembangnya kebiasaan hidup kikir.

Bersedekah kepada orang lain sesungguhnya akan membawa keberkahan,
menambah kekayaan lebih banyak dan menyebabkan terhindar dari musibah.
Tidaklah dapat dimungkiri bahwa seorang yang senang bersedekah  akan dicintai, dibela dan didukung usahanya oleh masyarakat kelilingnya.

Sebaliknya, seseorang yang cekil kedekut atau kikir, enggan bersedekah baik dengan harta maupun dengan tenaga untuk kepentingan ummat banyak, tentu akan dijauhi oleh masyarakat lingkungannya. Maka kekikiran atau
bakhil akan membuka jalan bagi datangnya musibah.

Berkaitan dengan anjuran bersedekah ini Rasulullah SAW bersabda: "Sedekah itu akan menutup tujuh puluh pintu keburukan (musibah)." (HR. Ath Thabrani). Allah SWT berfirman: "Apa saja yang telah kalian nafkahkan (infaqkan) Allah akan menggantinya". (Q.S. As Saba': 39)

Kedua, yang mendatangkan musibah ialah kurangnya bersilaturrahim atau lemah di dalam menyambung tali persaudaraan. Silaturrahim adalah amal yang diwajibkan dalam ajaran Islam. Semestinya silaturahim masuk ke dalam agenda hidup kita, karena silaturahim akan menumbuhkan kasih sayang yang mendalam di antara ummat. Dengan kasih sayang jualah persaudaraan dan persatuan dapat dibina Dengan kasih sayang pula, kedengkian dan kebencian dapat diobati, serta segala macam bencana dapat dihindari dan diatasi. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang ingin diluaskan rezkinya dan dipanjangkan umurnya
maka hubungkanlah tali silaturrahmi (persaudaraan)." (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, penyebab datangnya musibah ialah karena melupakan Allah dan lalai atas segala perintah-perintah-Nya. Melupakan Allah dan melalikan perintah-Nya, cepat ataupun lambat akan mengundang datangnya musibah.
Allah SWT berfirman "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang
telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa." (Q.S. Al An'am: 44) Na'udzubillah.

Keempat, bencana terjadi karena ulah tangan manusia belaka, seperti berbuat kerusakan, seperti penebangan hutan dan lain-lain, yang akan berdampak negatif bagi manusia, seperti banjur, tanah lonsor dll. Inilah yang diingatkan oleh Allah SWT dalam Al Quran-ul Karim pada surat Ar-Rum ayat 14


Oleh karena itu, di dalam menghadapi musibah ini manusia terbagi kepada beberapa golongan.

Ada kelompok yang selalu dilindungi oleh Allah SWT. Golongan ini selalu berjalan lurus meniti jalan Allah, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Golongan ini meyakini sungguh bahwa merekalah yang senantiasa memerlukan pertolongan dari Allah, baik di kala suka atau duka, tatkala miskin maupun kaya, di masa lapang dan sempit, bahkan disetiap keadaan ia senantiasa berusaha bersama dengan Allah Mereka meyakini bahwa tiada daya dan upaya melainkan hanya
dengan izin Allah SWT. Golongan ini akan mendapatkan perlindungan Allah dari semua musibah yang datang.

Ada pula kelompok yang manakala dalam keadaan sehat, senang dan lapang
sering lupa kepada Allah. Namun ketika dikepung cobaan, mereka bersegera kembali bertaubat kepada Allah, dengan sadar. Hakikatnya, semua musibah datang hanya dengan mengembalikannya kepada Allah semata, dan dengan memasrahkan diri bertaubat dengan taubat yang semurni-murninya. Golongan ini Insya Allah akan mendapat keampunan dari Allah Azza wa Jalla.

Ada lagi kelompok yang melupakan Allah SWT tatkala senang dan mengingatnya tatkala susah saja. Manakala kesusahan telah berlalu mereka kembali ke dalam kesesatan Mereka melupakan sama sekali apa-apa yang pernah berlaku sebelumnya. Mereka termasuk kedalam golongan orang orang yang musyrik, sebagaimana telah dijelaskan Allah dalam Al Quran surat Yunus (10), ayat 22 dan 23.

Adapun golongan yang paling buruk adalah yang hatinya mengeras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Walaupun berbagai bencana dan musibah telah datang kepadanya namun mereka tidak hendak bermohon ampun kepada Tuhannya. Mereka malas berkata, " Wahai Rabb-ku ! ". Mereka tidak mau mengambil pelajaran dari musibah yang ditimpakan kepada mereka. Mereka menganggap semuanya ini semata karena pergantian masa dan perputaran alam sahaja, dan tidak ada campur tangan Allah padanya. Kelompok ini adalah orang kafir.


Yakinilah bahwa musibah yang datang kepada kita dapat menjadi teguran, dan bisa pula berbentuk azab dari Allah. Musibah yang datang itu sebenarnya  untuk menyadarkan manusia akan kelalaiannya.
Berbagai ujian yang datang sesungguhnya memberi ingat manusia agar kembali dan segera sadar ke jalan Allah. Marilah kita senantiasa hindari semua musibah dengan mendekatkan diri dan taat kepada Allah SWT.


Bulan Ramadhan adalah bulan latihan bagi manusia beriman untuk mengamalkan keikhlasan di dalam mengendalikan nafsu syahwat, makan dan minum, semata-mata karena mengharapkan redha Allah saja. Allahu a'lam bissawab

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh,
Buya H. Mas'oed Abidin


--
Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min sakhati-ka wa an-naar
Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa sabaquuna bil-imaan,wa laa taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu Rabbana innaka ghafuurun rahiim.

Blog EntrySep 7, '08 1:45 AM
for everyone

Bertaubatlah dengan segera


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

" Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, " Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. " (Q.S. At Thahrim : 8)

Setiap mukmin memerlukan pengampunan dosa dan  penghapusan kesalahan. Tentulah kita tahu bahwa tidak seorangpun terlepas dari dosa dan kesalahan. Abu Tamam mengisyaratkan sebuah hadits Rasulullah SAW yang bersumber dari Anas bin Malik r.a: "Setiap orang di antara kamu sekalian melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat." (HR. Ahmad).

Dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia akan mengotori hatinya, bagai noda hitam di atas kain putih, tiada dapat dibersihkan kecuali dengan taubat. Rasulullah SAW menjelaskan dalam sabda beliau, "Orang yang meminta ampun dari dosa seperti orang yang tidak berdosa".(HR. Bukhari). Dan Allah SWT berfirman  "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (Q.S. Al Baqarah: 222)

Syetan telah menjebak manusia dalam seluruh aspek kehidupan, dan menyesatkannya dari jalan Allah Akibatnya manusia terjauh dari jalan keselamatan dan terbukalah dengan lebar pintu-pintu jahannam dengan bujuk rayu syaithan sehingga manusia terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan dan dosa. Karena itu semestinyalah manusia segera bertaubat mengharap maghfirah Allah.

Tidak boleh berputus asa di dalam bertaubat menuju kepada keampunan dari Allah, meskipun dosa-dosa sufdah memenuhi kolong langit. Allah adalah Maha Pencipta semua makhluk dan menguji semua amal perbuatan makhluk manusia itu. Siapapun yang menyadari akan banyaknya dosa dan ingin bertaubat menyesali semua kesalahannya itu, maka pintu taubat kepada Allah selalu terbuka dengan syarat, harus menghentikan maksiat dan menyesali perbuatan yang telah terlanjur dia lakukan. Selanjutnya dia mesti berazam atau berniat sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya lagi. Dan manakala dosa yang pernah diperbuat itu ada berhubungan dengan hak manusia maka dianya harus menyelesaikannya dengan meminta maaf atau mengembalikan apa-apa barang yang wajib ia kembalikan.

Keutamaan bagi orang yang segera bertaubat ialah Allah akan menyibukkan para malaikat-Nya untuk memintakan ampunan bagi mereka yang bertaubat dan berdoa kepada Allah agar Dia melindungi mereka dari siksaan neraka jahannam, lalu memasukkan mereka ke surga yang penuh dengan kenikmatan, serta memelihara mereka agar terjauh dari kejahatan dan kesalahan. Para malaikat yang membawa 'Arsy di langit sibuk memintakan ampunan bagi mereka yang bertaubat.

Allah berfirman: "(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), Ya Rabb kami, Rahmat dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam sorga 'And yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shaleh diantara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan … Dan, orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar. " (Q.S. Al Mukmin, 40 : 7-9).

Amat banyak ayat-ayat di dalam Al Quran al Karim yang mengabarkan diterimanya taubat orang-orang yang bertaubat manakala dilakukan dengan tulus dan benar. Penerimaan taubat semata adalah karunia, ampunan dan rahmat Allah. Rahmat Allah itu diberikannya kepada hamba-hamba yang beriman. Taubat yang sesungguhnya adalah memperbaiki semua kesalahan dan menyertainya dengan beramal shaleh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mensifati diri-Nya dengan Asmaul Husana seperti ditemui di dalam Al Qur'an, dengan sebutan at Tawwab (Maha Menerima Taubat).

Firman Allah : " Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang melakukan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera. Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang melakukan kejahatan yang hingga apabila datang ajal kepada seseorang, barulah ia mengatakan, " Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ". Dan tidak pula diterima taubat orang-orang yang mati sedang mereka dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. " (Q.S. An Nisaa' 4 : 17-18).

Jangan menunda-nunda taubat hingga datang hari esok. Maut itu datang secara tiba-tiba. Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Al Fawaid menuliskan, "Bila kau berpulang ke alam baqa, tidak membawa bekal taqwa, kau lihat orang-orang yang membawanya pada hari perhimpunan. Kau akan menyesal, karena kau tidak seperti mereka. Mereka mempunyai persiapan sedangkan kau tidak memilikinya." Maka bersegeralah untuk mensucikan diri jiwa kita.

Ramadhan adalah bulan Rahmat. Ramadhan bulan Maghfirah, di mana Allah Subhanahu Wa Ta'ala membuka pintu sorga dan menutup pintu neraka. Sesuai sabda Rasulullah SAW, « siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, niscaya akan diam[puni dosa-sosanya yang terdahulu ». Maka tidaklah sepantasnya kita melalaikan masa yang amat baik untuk beramal dan memasuki pintu taubat ini.

Wassalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Buya H. Masoed Abidin.


--
Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min sakhati-ka wa an-naar
Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa sabaquuna bil-imaan,wa laa taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu Rabbana innaka ghafuurun rahiim.


Blog EntrySep 7, '08 1:43 AM
for everyone

Ramadhan Melatih untuk Hidup Penuh Arti

 

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Kehidupan Dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan"  (Q.S.Ali Imran:185)

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

"Sedangkan Kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal" (Q.S.Al A'la: 17)

Generasi demi generasi telah lahir dan tumbuh dalam mengisi panggung kehidupan ini. Umur dari hari ke hari telah bertambah dalam bilangan, tetapi dalam jarak terus berkurang menuju pintu keabadian yang kemudian akan mengantarkan kita ke dalam kebahagiaan atau ke dalam kesengsaraan, sesuai pilihan masing dalam kehidupan kini. Kematian sudah pasti menjemput setiap yang bernyawa. "Di mana saja kamu berada, kematian akan menjemput kamu. Kendatipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh". (Q.S. An Nisa :78) Ini adalah satu kenyataan dan kepastian dalam rentang perjalanan kehidupan.

Buya di Depan Ka'bah

Buya di Depan Ka'bah

Ajal adalah batas hidup di dalam dunia fana ini. Tidak seorangpun  tahu,  bila ajal akan menjemputnya. "Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".  (Q.S. Luqman :34)

Tanpa di sadari masa hidup untuk beramal semakin hari semakin sempit dan berangsur-angsur habis, sedangkan dosa terus bertambah.

Kadangkala, kesempatan emas untuk bertaubat selalu pula ditunda. Banyak juga orang yang  lupa bahkan tidak mau menyesali akan perbuatan dosanya. Banyak yang senang dalam kemaksiatan. Seakan kealpaan adalah hal biasa.  Seakan, engkau tetap dalam kelengahan dan hatimu Alpa. Hilang umurmu  padahal dosa-dosamu tetap seperti keadaannya semula, tiada  pernah berkurang, tetapi malah selalu bertambah." Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.

Al Qur'an menceritakan orang yang semasa hidup tidak mau menyesali perbuatannya ketika masih hidup.  Tetapi penyesalan datang ketika semua masa telah  lenyap untuk memperbaikinya. "Dia mengatakan; "Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal sholeh) untuk hidupku ini". (Q.S. A1 Fajr: 24). Semestinya, siapapun wajib memanfaatkan kesempatan yang ada, sebelum kesempatan itu habis direnggut maut.

Ramadhan adalah anugerah untuk setiap mukmin yang mau mengubah diri dan kehidupan menjadi lebih berarti.

Jangan menunda lagi kesempatan untuk berbuat baik. Maut tidak pernah menunda untuk menjemput. Selalu persiapkan diri setiap masa bahkan setiap detik yang ada,  dalam penantian  panggilan Allah yang pasti tiba. Sebagaimana ungkapan bijak penuh hikmah, "… siapa mengetahui jauhnya sebuah perjalanan, semestinya ia bersiap-siap sebelum menapak perjalanan itu…".

Perjalanan menuju kehidupan akhirat yang abadi, semestinya dipersiapkan dengan  "bekal' yang cukup. Karena kematian datang sekali, tidak dapat berulang lagi. Maka taqwa adalah sebaik-baik bekal. Berbekallah dan sebaik-baik bekal adalah taqwa. (Q.S. Al Baqarah:197).

Sangat beruntung orang yang mampu menggunakan  kesempatan yang telah Allah berikan padanya dengan menyukuri nikmat umur dan menggunakannya untuk beribadah dan beramal sholeh. Dan Allah tidak pernah menganggap remeh setiap amal perbuatan seorang hamba., baik ataupn buruk perbuatan seseorang niscaya Allah SWT akan menampilkan nanti di yaumil hisab.

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula". (Q.S. Az Zalzalah : 7-8)

Bagi yang memiliki kelebihan harta benda, maka banyak berzakat, bersedekah,  melakukan haji atau umrah merupakan amalan yang  menuntut pengorbanan materi . Dan bagi yang tidak mempunyai materi yang cukup, dapat  melakukannya dengan mengamalkan sikap dan perilaku yang baik lagi bermanfaat buat orang banyak. Bimbingan Rasullah SAW. menyebutkan, "Sebaik-baik manusia adalah yang lebih baik akhlaqnya".  (H.R. Thabarani dan Ibnu Umar r.a).

Di dalam hadist lainnya disebutkan,"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain". (H.R. Al Qadha'i dari Jabir r.a)

Hakikatnya semua amalan tidaklah berarti apa-apa jikalau akhlaq telah rusak dan jika  tidak dapat membuktikan nilai-nilai ibadah yang  dilakukan ke dalam kenyataan  pergaulan kehidupan atau ke dalam berinteraksi sosial di tengah masyarakatnya.

Ibadah dan amal sholeh haruslah dilandasi dengan keikhlasan semata­-mata mencari redha Allah atau Lillahi ta'ala.

Sia-sialah amal seseorang yang masih dilandasi oleh sifat riya', ujub dan takabbur.

Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya pada surat Al Maa'un ayat 1-7 yang berbunyi, "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama ?. Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya. Orang-orang yang berbuat riya'. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna".

Semoga Ramadhan dengan ibadah puasa yang kita lakukan dapat membentuk sikap ikhlas mengejar redha Allah dan dapat pula membentuk kehidupan kita yang penuh arti di dunia serta mampu meraih Jannah Allah dengan amal ibadah yang terpelihara baik sesuai Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW.

Kita laksanakan buka puasa di hari ini sebagai bagian dari jamuan Allah untuk hamba nelaksanakan puasanya dengan Do'a Berbuka Puasa yang SHOHIH adalah ; "DZAHABAZH ZHOMAU WAB TALLATIL 'URUUQ, WA TSABATAL AJRU INSYAA ALLAH", artinya : "Telah hilang rasa haus dan telah basah urat-urat serta telah ditetapkan pahala, Insya Allah." (Hadits riwayat Abu Dawud (II/306), al-Baihaqi (IV/239), al-Hakim (I/422), Ibnus Sunni (120), an-Nasa-i di dalam kitab 'Amalul Yaum wal Lailah (269), ad-Daraquthni (II/185).

Semoga puasa kita di bulan ini diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Amin.


Wassalamu alaikum,

Buya H.Masoed Abidin


--
Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min sakhati-ka wa an-naar
Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa sabaquuna bil-imaan,wa laa taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu Rabbana innaka ghafuurun rahiim.


Blog EntrySep 7, '08 1:41 AM
for everyone

Ramadhan Melatih Ikhlas dan Thaat


Ramadhan adalah bulan sabar, dan sabar itu balasannya adalah Jannah. Sesungguhnya mengamalkan sabar bukanlah pekerjaan ringan dan menjadi bagian dari upaya jihad.

JIHAD adalah satu keberanian dan kemampuan dalam mengendalikan diri. Rasulullah SAW bersabda; "Seseorang tidak dikatakan pemberani karena melompati musuh di medan laga. Tetapi orang yang berani berjihad itu adalah yang mampu menahan diri ( artinya,memiliki ke‑sabaran)" (Al Hadist).

Berani dengan perhitungan (iman dan ihtisab) adalah bukti sebuah kesabaran. Perhitungan matang di topang oleh ketabahan dan kemampuan menahan diri akan membawa seseorang untuk bertindak benar.

Berpegang teguh kepada kebenaran (haq dari Allah) akan membuahkan keberanian dalam bertindak dan akhirnya bersedia untuk berjuang mempertahankan kebenaran itu.

Kesabaran adalah kemampuan mengendalikan diri dan semestinya menjadi pakaian  perilaku para pimpinan dalam mengemban tugas-tugasanya. Menumbuhkan kesabaran adalah kerja besar dan berat, suatu  "jihad akbar", atau "perjuangan yang berat".

Sejarah mencatat peristiwa besar di bulan Ramadhan dari Perang Badar di mana banyak para syuhada menjadi syahid. Rasulullah SAW mengatakan ketika itu, "Kita baru saja keluar dari jihad (perang) yang kecil dan akan memasuki jihad (perang) yang lebih besar lagi" (Al Hadist).

Pernyataan Rasulullah SAW ini menimbulkan tanya keheranan para sahabat pengikut Rassulullah yang mohon di jelaskan; "MANA LAGI PERANG (JIHAD) YANG BESAR ITU, WAHAI BAGINDA RASUL?".

Mengingat banyaknya korban ini para sahabat yang mengalami sendiri perang  itu menilai sebagai satu perang paling akbar yang pernah mereka rasakan. Tapi Rasulullah SAW menyebutnya sebagai perang kecil saja. Baginda Rasulullah SAW merumuskan  "JIHADUL AKBAR, JIHADUN NAFSI"(Al Hadist), artinya "Jihad (perang) yang besar itu, adalah perang mengalahkan nafsu", maknanya kemampuan mengendalikan diri.


Pengendalian diri dalam arti mendalam adalah kemampuan suatu bangsa tegak pada prinsip kebangsaan yang telah disepakati bersama, teguh bertindak dengan sikap patriotisme yang mendalam berakar pada kemampuan untuk mandiri dan tidak banyak tergantung dari kendali orang luar. Di sinilah suatu jihadul akbar yang berawal dari  perjuangan mengendalikan diri.

Arena latihannya adalah ibadah shaum atau ibadah puasa. Shaum atau puasa itu, di awali dan di akhiri oleh "pengendalian diri". Di mulai sejak sahur sampai datangnya waktu berbuka dengan imsak atau menahan.  Kerelaan menahan sampai datang waktu dibolehkan berbuka merupakan latihan disiplin yang tinggi. Inilah bagian dari pengendalian diri yang utuh.


Sebuah latihan, hanya bisa dilihat hasilnya setelah masa latihan terlewati.

Keberhasilan melaksanakan puasa (shaum) terlihat berbekas, jika mampu melahirkan sifat‑sifat disiplin dalam mengendalikan diri, baik selama atau sesudah Ramadhan pergi. Makin tinggi nilai latihan makin lama bekasnya di dalam diri.


Masa depan sangat memerlukan manusia yang berkualitas. Memiliki disiplin yang tinggi dalam setiap kondisi. Kita amat memerlukan bangsa yang tangguh dan ampuh dalam menjalankan misi pembangunan di segala bidang. Diperlukan sumber daya manusia yang rela menahan diri, berhemat, sanggup memikul beban bersama dan memiliki rasa solidaritas (ukhuwah) yang mendalam.


Semuanya hanya bisa diciptakan, melalui latihan kebersamaan dan disiplin yang terus menerus. Kesempatan ini dibukaan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, melalui ibadah puasa (shaum) di bulan Ramadhan ini.

Semoga kita jadikan Ramadhan ini menjadi bulan membentuk diri kita, ikhlas, kuat dan taat. Amin.


Wassalamu 'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh,

Buya H. Masoed Abidin


--
Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min sakhati-ka wa an-naar
Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa sabaquuna bil-imaan,wa laa taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu Rabbana innaka ghafuurun rahiim.


Blog EntrySep 7, '08 1:37 AM
for everyone

Berpuasa dalam Ramadhan adalah Perjalanan Rohani dari Iman Menuju Taqwa

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu benpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (QS. Al Baqarah:183).

 Kebanyakan manusia mengira, bahwa manakala seseorang telah dapat menahan diri dari tiga perkara tadi di sepanjang siang hari, maka dia telah menganggap bahwa telah mengerjakan puasa. Kebanyakannya pula menganggap bahwa dengan menahan makan, minum dan syahwat di siang hari Ramadhan, telah merasa bebas dari kewajibannya dan telah tertunaikan segala kewajiban yang dibebankan Allah Subhanahu wa Ta'ala atas dirinya.

Ibnul Qayyim merumuskan tentang tujuan puasa, antara lain  "Membebaskan ruh manusia dari cengkraman hawa nafsu yang menguasai jasmaninya menuju sasaran pensucian dan kebahagiaan yang abadi. Puasa adalah perisai bagi orang mukmin, kendali baginya  dan yang akan mengantarkannya ke dalam golongan orang-orang yang bertaqwa.

Jika kita tukikkan pikiran kepada perintah Shaum atau Puasa ini, maka ditemui bahwa sesungguhnya Allah SWT telah memulai ayat puasa dengan  firman-Nya "Hai orang-orang yang beriman" dan di akhir kalimat firman Allah tersebut ditemui penekanan makna "Agar kamu bertaqwa"  dan juga firman-Nya : "Supaya kamu bersyukur".

Di antara kalimat-kalimat itu terdapat perintah  "Diwajibkan atas kamu berpuasa".

Nyata sekali, seruan Allah ini didahului dengan sifat keimanan sebagai dasar ajakan dan sumber keutamaan. Ini adalah satu petunjuk yang kuat dan keterangan yang jelas, bahwa puasa yang dikehendaki Allah sangat luas, yaitu mengendalikan dari segala yang menodai keimanan, dan mengawasi diri dari yang tidak sesuai dengan keutamaan taqwa.

Amatlah jelas, puasa seseorang hanya mengarahkan pengharapan kepada Allah semata.

Syaikh Al Azhar Prof. Dr. Mahmud Syaltut di dalam kitab « Aqidah dan Syari'ah » mengatakan : "Lidah manusia telah terbiasa mengatakan, bahwa puasa adalah menahan diri dan makan, minum dan melakukan hubungan seksual".

Sesungguhnya tidak berarti puasa orang yang menyimpan perasaan dengki, iri hati dan permusuhan serta mengadu domba. Karena semuanya itu tidak diredhai oleh Allah. Tidak dapat dikatakan berpuasa seorang yang usahanya memecah-belah dan melemahkan kekuatan kaum muslimin, karena perbuatan itu tidak disenangi oleh Allah.

Tidak berarti berpuasa seseorang yang menyenangi kezaliman, berbuat bencana dan permusuhan, serta menyebar perangai buruk serta fitnah. Semua perbuatan itu bertentangan dengan sasaran taqwa yang hendak dicapai melalui puasa itu.

Demikian pula orang yang tangan, lidah, atau salah satu anggota badannya digunakan untuk menyakiti hamba Allah dengan melanggar larangan Allah, maka puasanya tidak akan memberi manfaat baginya.

Seorang hamba yang melaksanakan ibadah puasa adalah seumpama malaikat berbentuk manusia. Dia tidak akan berbohong, tidak menghembusakan fitnah, tidak mengyiasati pembunuhan atau tindak kejahatan, tidak menipu dan tidak memakan harta orang lain dengan cara yang bathil. Itulah arti puasa yang menghimpun antara bentuk lahiriyah, yakni menahan diri dari segala yang membatalkannya.

Berpuasa berarti penguatan roh keimanan dengan meningkatkan pengamanan diri dan menyucikannya dari noda dan dosa serta pengisiannya dengan hal-hal yang baik sebagaimana yang diisyaratkan Rasulullah dalam sabdanya :

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan dustra dan amal jahat, maka Allah tidak butuh kepadanya meskipun ia meninggalkan makan dan minum (berpuasa). (HR. Bukhari, At-Tirmizi dan Abu Daud)

Dalam Al-Quran, tujuan puasa disebut secara eksplisit, yaitu untuk menciptakan manusia bertaqwa. Manusia bertaqwa sesungguhnya adalah manusia yang memiliki kesadaran ketuhanan yang amat tinggi.

Kesadaran berketuhanan adalah kesadaran seseorang bahwa Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa menyertai dan mengawasi hidupnya, sehingga Allah bukan hanya Maha Hadir (Omni Present), tetapi juga Maha Dekat (In Manent).

Kesadaran berketuhanan adalah pangkal kebaikan dan pangkal moralitas. Tanpa kesadaran berketuhanan, tidak akan pernah ada ketaqwaan.

Dalam suatu hadist Rasulullah SAW diterangkan bahwa seseorang tidak akan mencuri, korupsi, berzinah, atau melakukan itndak kejahatan lainnya manakala ia beriman dan ingat kepada Allah (HR. Bukhari).

Ini mengandung arti bahwa perbuatan dosa timbul dan terjadi karena kelalaian dan kealpaan manusia dari mengingat Allah SWT.

Ibadah puasa yang kita lakukan sesungguhnya berfungi untuk mempertajam dan meningkatkan kesadaran dan ketuhanan itu, yang diharapkan dapat menjadi dasar dan landasan dapat terbentuknya nilai taqwa.

Kesadaran ini sangat menonjol pada orang yang berpuasa. Itu sebabnya, orang yang berpuasa tetap menahan lapar dan dahaga, meski baginya terbuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk makan minum tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya. Hal demikian tidak akan dilakukan karena ia menyadari sepenuhnya bahwa Allah Maha Mengetahui dan hadir dalam dirinya. Inilah kesadaran berketuhanan dan inilah sesungguhnya taqwa.

Hujjatul Islam al 'Allamah al-Imam Al-Ghazali dalam Mukasyafatul Qulub merincikan bahwa sifat yang lahir dari ibadah-ibadah termasuk ibadah puasa karena landasan kesadaran bertetuhanan atau bertauhid itu akan membentuk tujuh macam watak sifat manusia yang baik  ;

1.  Lidahnya selalu terpelihara dari perkataan buruk dan berbohong .

2. Hatinya terhindar dari sifat dengki, hasat, benci dll.

3. Matanya jauh dari pandangan yang terlarang.

4. Perutnya tidak mau makan makanan yang haram atau bersumber dari harta yang haram.

5. Tangannya tidak menyentuh yang diharamkan.

6. Kakinya tidak melangkah ke tempat maksiat.

7. Ketaatannya ikhlas karena Allah semata,tidak karena riya' atau mengharapkan pujian.

 

Semoga Ramadhan dengan ibadah puasa yang kita lakukan dapat membentuk ketujuh sifat terpuji ini dan dapat menjadikan  kita hamba Allah yang berguna hidup di dunia dan dapat meraih Jannah Allah dengan amal ibadah yang ikhlas.

Wassalamu 'alaikum,

Buya H.Masoed Abidin

 

--
Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min sakhati-ka wa an-naar
Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa sabaquuna bil-imaan,wa laa taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu Rabbana innaka ghafuurun rahiim.

Blog EntrySep 7, '08 1:34 AM
for everyone

Menjaga Hidup Bertetangga Dalam  Ramadhan


وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ. قِيْلَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الذِيى لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بِوَاثِقَهُ

"Demi Allah, tidak beriman … Demi Allah, tidak beriman …. Demi Allah, tidak beriman …! Dikatakan kepada beliau, Sipa ia itu wahai Rasulullah? Rasulullan SAW menjawab, "yaitu orang yang tetangganya tidak aman gara-gara ulahnya." (H.R. Bukhari dari Abu Hurairah r.a)

Hadits Rasulullah SAW yang berisi peringatan ini mengajarkan ke segenap ummat untuk menelihara akhlakul kariman dalam berinteraksi sosial khususnya pada kehidupan bertetangga. Terwujudnya suatu hubungan bermasyarakat yang nyaman ditentukan oleh kebaikan hubungan bertetangga.

Tetangga seakan saudara terdekat dalam satu lingkungan. Sehingga baik buruknya bertetangga menjadi ukuran iman seseorang. Maka, "memelihara hubungan dengan tetangga termasuk bagian dari kesempurnaan iman".

Hadist Rasulullah SAW menegaskan, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berlaku baik terhadap tetangganya,  barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berbicara yang baik atau diam saja." (H. R. Muslim)

Hadits shahih ini menjadi asuhan kehidupan bermasyarakat dengan menekankan kepada berbuat baik pada tetangga, menghormati tamu, dan seorang mukmin tidak boleh berkata, kecuali dengan perkataan yang baik. Memuliakan tetangga dapat dilakukan dengan bersikap ihsan kepadanya menurut kemampuan yang dimiliki, seperti sering hadiah menghadiahi, memberi salam, menampakkan keceriaan dan wajah manis dengan ikhlas, serta saling  membantu meringankan kesulitan yang sedanag dihadapi.

Di dalam ajaran Islam kewajiban bermasyarakaat amatlah luas, di antaranya hak tetangga, hak kerabat, hak sesama muslim dan hak sesama manusia walaupun bukan seorang muslim yang bukan pula kalangan kerabatnya. Seseorang dapat dikatakan "orang baik" apabila pergaulannya dan hubungan  dengan tetangga di lingkungannya baik. Apabila tingkah polah dan perilakunya selalu meresahkan atau mengganggu tetangganya, maka dia akan sangat dibenci oleh Allah SWT.

Demikian tegasnya Rasulullah SAW menyebutkan di dalam hadits beliau,


لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بِوَائِقَهُ

"Tidak dapat masuk sorga orang yang tetangganya tidak merasa  aman dari gangguannya". (H.R. Muslim)

Berdasarkan hadist di atas, jika ada tetangga yang mencela, seharusnya tidak membalas dengan celaan, dan bila ada tetangga yang menyakiti hati, tidaklah mesti berbalas dengan menyakiti hatinya. Semestinya segala urusan dikembalikan kepada Allah SWT sebagai penjaga dan pemelihara diri, jiwa dan kehormatan Dengan ini sikap pemaaf adalah paling utama.

Wasiat Rasulullah berkenaan masalah tetangga mesti diupayakan terwujud dalam kehidupan bermasyarakat, agar komuniotas lingkungan menjadi seperti sebuah keluarga yang kuat. Kehidupan bermasyaraakat dalam lingkungan muslim digambarkan sebagai batang tubuh yang satu. Manakala salah satu anggota tubuh itu sakit, maka anggota tubuh yang lain ikut merasakan bertanggang sebagai satu bentuk solidaritas yang spontan. Kehidupan masyarakatnya selalu diikat dengan sikap saling tolong-menolong, bahu membahu dalam kebaikan dan taqwa.

Dengan terlaksananya berat sepikul ringan sejinjing atau amar ma'ruf dan nahi munkar, maka terciptalah sebuah masyarakat yang rukun, damai, aman, sentosa dan harmonis yang selalu diikat dengan nilai sopan santun. Masyarakat sedemikian disebut "Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur".

Sayyidah Aisyah Radhiaallahu 'anha mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda ;


صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ الخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجَوارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يُزِدْنَ فِى الأَعْمَارِ

"Silaturrahmi, berakhlak mulia serta bertetangga dengan baik akan membangun dunia dan memperpanjang usia".(HR. Ahmad).

            Di dalam bulan Ramadhan amat di anjurkan saling memberi perbukaan, saling menegur dengan baik, saling menjauhi perkataan kumuh dan bohong, agar terjaga hubungan bertetangga yang baik. Semoga Allah SWT selalu memberi kita kekuatan. Amin.

Wassalam,

Buya H. Masoed Abidin


--
Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min sakhati-ka wa an-naar
Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa sabaquuna bil-imaan,wa laa taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu Rabbana innaka ghafuurun rahiim.



Blog EntrySep 7, '08 1:30 AM
for everyone

Jadikanlah Ramadhan Bulan Berbuat Baik kepada Ayah dan Bunda (Birrul Walidain)

 

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

"Dan Kami perintahkan Kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yanq bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu" (Q.S. Luqman: 14)

Istilah birrul walidain  adalah istilah yang dipakai Rasulullah SAW sebagai disebutkan oleh sahabat Abdullah bin Mas'ud ketika seorang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang amalan apa yang paling disukai oleh Allah SWT.

"Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah ibnu Mas'ud r.a.,dia berkata, "Aku bertanya kepada Nabi SAW, "apa amalan yang paling disukai oleh Allah SWT ?" Beliau menjawab, "shalat tepat pada waktunya", Aku bertanya lagi, "kemudian apa ?" Beliau menjawab, "birrul walidain". Kemudian aku bertanya lagi, "seterusnya apa ?" Beliau menjawab, "jihad fi sabilillah" (Muttat'aqun 'Alaih)

Birrul walidain terdiri dan kata al birrul artinya kebajikan dan  al walidain artinya dua orang tua atau ayah bunda. Maka, birrul walidain maknanya berbuat kebajikan kepada kedua orangtua atau berbuat ihsan sesuai dengan diperintahkan Allah SWT di dalam surah Al Ahqaf ayat 15 : "Kami wajibkan kepada umat manusia supaya berbuat kebaikan (ihsan) kepada dua orang ayah bundanya".

Sahabat Abu Umamah r.a. mengisahkan, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW. mengenai peranan kedua orang tua, yang dijawab oleh Rasulullah SAW, "Mereka (kedua orang tua) adalah yang menyebabkan surgamu atau nerakamu" (HR. Ibnu Majah).

Sebuah riwayat yang shahih ketika Muawiyah suatu ketika mendatangi Rasulullah SAW memohonkan agar dapat ikut berjihad bersama beliau ke medan juang, maka  Rasulullah SAW bertanya kepadanya apakah ibunya masih hidup. Muawiyah rnenjawab bahwa ibunya masih hidup. Rasulullah SAW kemudian bersabda, "kembalilah ke rumah dan layani ibumu, karena sorga berada di bawah telapak kakinya" (HR. lbnu Majah dan Nasa'i)

Di antara perintah Allah mengenai birrul walidain terdapat di dalam surah Al Isra' ayat 23 –24. Manakala diperhatikan firman Allah dalam ayat ini dapat diambil beberapa hal pokok. Pertama, hak dan kedudukan orang tua (ayah bunda) di dalam Islam memiliki kedudukan yang mulia, langsung berada di bawah hak-hak Allah SWT. Alquran berulang kali memerintahkan berperilaku menyenangkan, patuh berbakti kepada ayah bunda.

Selanjutnya, apabila kedua ayah bunda sudah berusia lanjut, sikap dan perasaan mereka cepat berubah, seperti menjadi mudah tersinggung, suka marah dan cepat bersedih hati, karena ketuaan usia mereka. Maka kepada anak-anak mereka diperintahkan agar melihat perubahan perilaku ayah bunda yang sudah tua renta itu sebagai suatu yang lumrah dan mesti diterima dengan selalu menampakkan rasa kasih sayang yang tulus sebagai buah dari keluhuran budi mukmin yang bertaqwa.

Dalam usia lanjut itu, kedua orang tua (ayah bunda) amat mengharapkan kasih dari anak-anak mereka yang sudah mereka besarkan sedari kecil. Maka anak-anak mereka dituntut patuh dan senantiasa menyayangi kedua ayah bunda sebagaimana kasinh sayang kedua orang tua mereka ketika mereka masih anak-kecil.

Kepada anak-anak dituntut bersikap rendah hati, sopan, dan patuh terhadap orang tua. Dalam usia ayah bunda sudah lanjut, hendaknya anak-anak rnelayaninya dengan penuh kepatuhan, semata-mata bersyukur kepada Allah SWT karena mendapatkan kesempatan melayani orangtua di usia lanjut. Mestinya disadari bahwa perjalanan hidup anak banyak bergantung kepada kedua orangtua, walaupun kedua ayah bunda telah merawatnya penuh perhatian dengan menanggung berbagai penderitaan.

Maka birrul walidain menempati kedudukan istemewa dalam ajaran Islam. Perintah ihsan kepada ayah bunda ditempatkan oleh Allah SWT di dalam Alquran sesudah perintah beribadah kepada Allah dan sesudah larangan menyekutukan-Nya. "Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan esuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak wabil waalidaini ihsanan… (Q.S. An Al Isra': 36)

Allah telah menetapkan perintah berterima kasih kepada ayah bunda sesudah perintah bersyukur kepada Allah SWT. "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. (Q.S. Luqman:14)

Kemudian, Baginda Rasulullah SAW mengaitkan keridhaan Allah SWT bertalian dengan keridhaan ayah bunda, sesuai sabda beliau, "Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orangtua, dan kemarahan Rabb (Allah) ada pada kemarahan orang tua" (HR. At Tirmidzi). Demikian pula, Rasulullah SAW meletakkan 'uququl walidain (durhaka kepada dua orang ibu bapak) sebagai dosa besar sesudah al isyraaku billah (syirik).

Maka di dalam mengamalkan ibadah-ibadah di dalam bulan Ramadhan khususnya, dan juga pada setiap saat, janganlah dilalaikan untuk berdoa bagi keselamatan dan kesejahteraan kedua ayah bunda, agar Allah SWT menurunkan rahmatnya untuk kita semua.

Wassalamu'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh,

Buya H.Masoed Abidin


-------------------------

Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min sakhati-ka wa an-naar
Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa sabaquuna bil-imaan,wa laa taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu Rabbana innaka ghafuurun rahiim.



Celakanya Miras

Minuman Keras amat berbahaya dan membahayakan bagi orang yang meminumnya. Dalam sebuah hadist Nabi Muhammad SAW melaknat khamr atau minuman keras yang memabukkan mencakup kepada sepuluh golongan: 1) yang memerasnya, 2) yang minta diperaskan, 3) yang meminumnya, 4) yang membawanya, 5) yang minta di antarkan, 6) yang menuangkannya, 7) yang menjualnya, 8) yang makan hasil penjualannya, 9) yang membelinya, 10) yang minta dibelikan. " Demikian salah satu hadist riwaayat At Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Al Khamr secara bahasa atinya tertutup, yang diambil dari kosa kata khimar  yang berarti kerudung (penutup kepala) dan kata khamr yang berarti minuman yang memabukkan atau minuman keras (miras). Demikianlah orang yang mengkonsumsi khamr  menyebabkan akalnya tertutup sehingga tidak bisa mengingat dirinya atau mabuk. Rasulullah SAW menetapkan khamr (miras) tidak semata dari bahan untuk membuat khamr (miras), tetapi lebih dari pengaruh yang ditimbulkan, yaitu memabukkan.

Miras (minuman keras), apapun nama yang digunakan oleh manusia tetapi dapat membuat yang mengonsumsinya mabuk hilang akal, seperti ganja, arak, tuak dan sejenisnya, hukumnya adalah haram. Khamr didefenisikan oleh Raslullah SAW adalah sesuatu yang memabukkan yang dapat mengakibatkan hilngnya akal. Padahal akal adalah organ mulia anugerah Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mengontrol gerak gerik anggota tubuh. Maka hukum Islam menegaskan meminum khamr baik sedikit apalagi banyak hukumnya adalah haram. Rasulullah SAW bersabda: "Minuman apapun kalau banyaknya itu memabukkan. Maka sedikitnyapun adalah haram." (HR. Ahmad, Abu Daud, dan At Tirmidzi)

Tidak mengherankan bila agama Islam memandang khamr sebagai ummul khabaa-its atau « sumber segala perbuatan keji » dan miftahu kulli syarrin yakni « kunci segala kemaksiatan ». Manakala akal sudah tertutup oleh pengaruh khamr adalah lumrah bnagi seseorang bertindak di luar kontrol. Tindak kejahatan akan dilakukan, seperti perkelahian, pembunuhan, kejahatan mengganggu ketentraman dan meresahkan lingkungan. Alquran memerintahkan manusia untuk menjauhi atau mengharamkan khamr ini, sebagai diwahyukan oleh Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 90-91, "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan merupakan perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu memperoleh keberuntungan. Sesungguhnya syetan itu hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran khamr dan berjudi itu, dan hendak menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu."

Dari makna ayat Alquran ini dapat disimpulkan secara sempurna bahwa, khamr (miras) adalah rijsun, sesuatu yang keji dan kotor (najis). Khamr (miras) adalah perbuatan syetan. Khamr (miras) selalu menyeret kepada tindak kejahatan, permusuhan, dan kebencian di antara manusia. Khamr (miras) menghalangi manusia dari berbuat baik, menjauhkan manusia dari berzikir kepada Allah dan menghalangi manusia untuk mendirikan shalat. Selanjutnya khamr (miras)  dalam segala bentuk dan kadarnya adalah haram. Demikian Allah SWT mengharamkan dan memerintahkan kepada manusia untuk menjauhinya, semata untuk keselamatan manusia itu jua adanya.

Sebelum ayat Alquran dalam surat Al Maidah: 90-91 itu di wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, kebiasaan dan tradisi masyarakat Arab terbiasa meminum khamr, bahkan khamr menjadi bagian dari kenikmatan hidup mereka, termasuk para shahabat. Namun, setelah Allah mengharamkan khamr melalui firman-Nya di surah Al Maidah: 90-91 itu,  mereka langsung meninggalkannya, karena kepatuhan kepada Allah dan Rasulullah.

Ketika ayat ini sudah turun, maka Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr, maka barangsiapa yang telah mengetahui ayat ini dan masih mempunyai khamr walaupun sedikit, maka jangan diminum dan jangan dijual." (HR. Muslim). Dalam riwayat hadist ini dijelaskan, bahwa para sahabat secara serentak menumpahkan semua minuman keras yang ada di rumah mereka. Para penulis ahli sejarah menukilkan, beberapa saat setelah turunnya ayat yang mengharamkan khamr, di saat itu kota Madinah digenangi khamr  yang ditumpahkan kaum muslimin sambil berseru, "Intahaina ya Allah!" (Kami telah menjauhinya, ya Allah!).

Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu 'Anhu bahkan sempat berkata, "Seandainya ada satu tetes khamr (minuman keras) jatuh ke laut, kemudian laut itu kering, lalu tumbuh sebatang pohon yang buahnya bisa dimakan, maka andai saja lidahku telah kering kehausan dan perutku menjerit kelaparan, niscaya aku tidak akan mendekatinya." Sikap tegas seperti ini ditunjukkan juga oleh sahabat Umar bin Khatab Radhiallahu 'Anhu di hadapan orang banyak berseru, "Demi Allah! Seandainya setetes khamr jatuh ke tanganku, niscaya akan kupotong tanganku ini dan kulepaskan dari tubuhku." Demikianlah satu bentuk kepatuhan sahabat dan salafus-shalih di masa Rasulullah Shallalahu 'ali wa Sallam mengikuti perintah Allah dalam Alquranul Karim.

Sejarah turunnya ayat ini juga menceritakan para sahabat melakukan razia terhadap  orang-orang yang masih menyimpan atau menjual khamr. Kemudian khamr-khamr itu mereka tumpahkan ke tanah atau mereka buang ke selokan air. Para sahabat melakukan gerakan pembasmian khamr semata akarena kepatuhan kepada Allah dan Rasulullah SAW telah mengharamkan, di samping mereka telah menyaksikan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh khamr berupa bermacam kejahatan dan kemaksiatan yang sangat merugikan manusia. Para sahabat dan orang-orang mukmin sangat meyakini bahwa Allah tidak akan melarang sesuatu, kalau tidak ada mudharat  di dalamnya. "Sesungguhnya Allah tidak pernah menzalimi manusia, manusia juga yang menzalimi dirinya sendiri."

Dalam kajian syari'at Islam dikenal maqashid syari'ah bahwa diterapkannya syari'at oleh Allah SWT bagi manusia memiliki tujuan sangat berarti bagi manusia, di antaranya memelihara akal dengan mengharamkan seluruh yang mengganggu atau menghilangkan akal itu. Sebuah peringatan seperti diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Abu Malik Al Asy'ari, sesungguhnya Abu Malik Al Asy'ari telah mendengar Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya manusia dari ummatku akan meminum khamr dan mereka akan menyebutnya dengan nama lain selain namanya (selain khamr)." Inilah yang amat membahayakan di dalam perkembangan global ini. Na'udzubillah min dzalik.

Wassalam, Buya H. Masoed Abidin.



--
Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min sakhati-ka wa an-naar
Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa sabaquuna bil-imaan,wa laa taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu Rabbana innaka ghafuurun rahiim.

Suasana Ibadah Puasa Masyarakat Sumatera Barat dapat dijadikan daya tarik Wisatawan


Moga ibadah puasa kita berterima di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala.
Memang yang mendasari puasa itu tauhid kepada Allah.
Kalau menurut pengajian di surau, satu ibadah yang tak tersentuh riya hanya ibadah puasa ini. Insya Allah.

Di dalam Harian Singgalang Sabtu, 6/9/08 kemarin, Buya sampaikan bahwa Prof. James Hellyward semestinya mulai kini sudah merancang nuansa ibadah berpuasa orang-orang di Minangkabau (Sumatera Barat) itu menjadi obyek wisata, sebagaimana orang Bali menjual upacara Nyepi.
Kalau mau dipakai juga kata-kata "menjual" sebagai pintu devisa atau menggenjot pendapatan daerah secara materi.

Mau belajar ke Makkah atau Madinah? Silahkan.
Tradisi orang Arab di Makkah dan Madinah adalah menjamu orang berbuka puasa sebagai implementasi dari anjuran Rasulullah SAW agar memberi perbukaan kepada orang yang akan berbuka puasa, dan pahalanya sebesar pahala puasa orang yang diberi perbukaan itu.

Konsepnya, sunnah Rasulullah, yakni ibadah yang melahirkan tradisi Dikemas oleh pemerintah, dan ujungnya diraup keuntungan untuk negara dan bangsa.

Maka, orang-orang berduit yang mencari selama setahun penuh, menghabiskan selama bulan Ramadhan untuk menjamu orang berbuka puasa.
Terjadi multiplier effect dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berpariwisata selama bulan Ramadhan itu.

Di antaranya, masjid Nabawi dan masjid Al Haram Mukarramah penuh sesak, mengalahkan bulan hajji dan pengunjungnya terbanyak dari luar negeri, sumber devisa yang gemuk. Ini namanya membaca peluang syariat untuk bisnis dunia, atau lebih halus lagi, bahwa syariaat agama itu membukakan rezeki di dunia bagi orang yang cerdas dan mengharapkan redha Allah.

Waktu setengah jam sebelum berbuka puasa, seluruh pelataran masjid sampai ke jalan-jalan feeder road sekeliling masjid dari semua penjuru dipenuhi hidangan juwadah yang disiapkan orang-orang yang ingin bersedekah menjamu orang yang berpuasa.
Mereka disambut dengan tarikan dan pelukan tangan bersahabat, tidak membedakan bangsa dan etnis, mereka berbaur, bercengkerama, sambil menunggu waktu berbuka tiba.

Terjadilah interaksi spontan, bahkan ikatan bisnis mulai dirancang, dan Menteri atau Kepala Dinas Pariwisatanya menjadi senyum-senyum dikulum, negerinya ramai, uangpun masuk. Raja sebagai penguasa tunggal di negerinya juga pandai, mereka tidak keluarkan aturan eksklusif, di masjid tidak boleh makan minum, cuma dibuatnya pengumuman holistik, jagalah kebersihan dan ketenangan di dalam ikatan ruhul Islam yang kuat.
Tak ada yang rugi, tak pula ada yang dirugikan, apalagi tidak pula ada yang berniat merugikan.

Sumatera Barat punya potensi ibadah dan religi (kata orang sekarang walau sudah rapuh dan keropos, tapi sebenarnya masih dapat dikemas) Ini modal besar jika kita mau intensif dan basitungkin mamikiekan dan merancangnya.
Umpamanya,
Khusus dalam dan dengan puasa ini, seperti acara jalang menjalang, ma anta pabukoan antara minantu baru ka mintuo, antara ipa bisan, kemaslah dengan baik, buatkan anjuran dan di dalamnya ada nilai ibadah.
Tradisi balimau, yang katanya satu-satunya ada di Minangkabau, jaga dengan sempurna, kemas dengan baik, pelihara aturan syariatnya, menartik untuk ditengok orang yang belum tahu akan nilai dan isi budayanya.
Pasa pabukoan, ramaikan dengan makanan tradisi, minta mereka berjualan dengan memakai pakaian tradisional, seperti batikuluak, ba saruang, babaju kuruang, bukannya basarawa cincuik saroman nan biaso dipakai urang di pantai Napels atau di Selatan Balkan itu.
Shalat tarawih nan tertib, tidak di tingkah oleh petasan yang menghamburkan uang dengan mengirimnya ke China.  
Atau tadarus di Masjid yang sudah ditinggalkan, kemas balik dengan baik.

Safari Ramadhan juga dapat dikemas apik. Umpamanya rombongan safari Ramadhan itu makan bajamba di musajik yang dikunjungi.
Ubah dari Rumah Pejabat pindahkan ke Rumah Ibadat.
Ketika ini berani dibuat, pasti masyarakat se kampung akan amat senang, negerinya didatangi para pemuka dan pejabat tinggi negeri, mulai dari Gubernur sampai ke Wali Nagari.
Tanpa disadari hidup kembali budaya lokal, singkek ba uleh kurang ba tukuak (= singkat diulas, kurang ditambah), dengan saling menghormati, menjadi pelajaran amat berarti bagi semua anak muda pelanjut generasi di nagari.
Waktu yang tersedia panjang pula. Sejak maghrib sampai selesai tarawih, minimal 4 jam untuk interaksi dan dialog two-way communication dari atas ke bawah ke atas. Timbul semangat membangun nagari, kuat, beradat, bekesopan-santunan, sesuai ajaran syarak mangato adaik mamakaikan (= syarak mengatakan maka adat memakaikan).
Beranikah kita mengubah tradisi yang sudah dibiasakan selama ini? Terpulang kepada keteguhan hati kita masing-masing.
 
Amat perlu orang-orang pengelola pariwisata itu mengerti, bahwa orang datang dan tertaris untuk melihat sesuatu yang tidak dipaksakan, tetapi dia ingin melihat sesuatu yang dibiasakan.

Alun juo cukuik lai,
Ditambah saketek lai.
Buya pernah di datangi seorang sahabat kaya dari Saudi, namanya Sheikh Al Mousa, Alhamdulillah dia punya 7 hotel di keliling Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Ketika sampai di Ranah Minang, kalimat yang meluncur dari lidahnya adalah "Subhanallah", melihat indahnya bumi ranah bundo "qith'ah minal Jannah fid-dunya" = sepotong sorga yang tercampak ke bumi.
Ketika buya pilihkan tempat menginap di Hotel Bumi Minang dan Pangeran Beach yang waktu itu baru dan paling besar, dia menolak dengan halus, karena dia sudah amat terbiasa menginap di hotel mewah.
Dia ingin tidur di Masjid. Hilang juga akal mencari masjid yang punya bilik tempat menginap yang "representative" menurut ukuran kita.
Akhirnya di menginap di lantai salah satu masjid yang cukup ternama di kota Padang, akan tetapi di tengah malam dia dibangunkan dengan hardikan, "tidak boleh tidur di masjid", disangka oleh garin (karim) masjid orang yang tidur itu gembel biasa, padahal dia adalah seorang milyuner yang sudah jenuh dengan segala kekayaan yang dia punya.
Begitulah satu dari jutaan macam kulikat orang berwisata dari seantero mancanegara.

Tidak semua orang yang datang di bulan puasa itu merasa tersiksa karena tidak dapat makan seenak hatinya di warung-warung nasi secara terbuka di siang hari di bulan Ramadhan di Padang atau di Sumatera Barat.

Tidak perlu cemas, umumnya pariwisata mancanegra itu lebih menghormati orang yang berpuasa dibanding sopir taksi atau pengemudi angkot yang notabene anak-anak keluarga muslim juga, tetapi dengan bangganya merokok di tengah jalan, dan kunyah-kenyoh (= makan makanan seenak hati tanpa merasa malu) di bulan basaha (= bersahur) sambil membawa kenderaannya hilir mudik.

Puasa tidak menghalangi pariwisata.
Makanya Buya berkata Puasa juga dapat dikemas menjadi obyek wisata. Diperlukan Proffessional untuk itu.

Mohon maaf lahir bathin,

Wassalam
Buya H.Masoed Abidin (HMA)


Sebagai Tambahan ;

Silahkan baca Berita ANTARA News, Padang 07/09/08 03:53, di bawah judul

Mahasiswa Jepang Ikut Jual Hidangan Berbuka di Pinggir Jalan

Padang, (ANTARA News) - Sebanyak 16 mahasiswa asal Universitas Meiji, Tokyo, Jepang, memasak menu siap santap ala negara mereka untuk berbuka puasa (pabukoan) dan langsung menjualnya di Jalan A. Yani, Kota Padang, Sumbar, Sabtu sore.

Ketua Panitia juga mahasiswa dari Universitas Andalas (Unand), Sherly Ramadhani, mengatakan, kegiatan tersebut diadakan Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC) Meiji University yang sedang studi tur ke Sumbar.

"Mereka studi tur ke sini selama dua pekan, selain memasak dan menjual pabukoan ini mereka juga akan melakukan kegiatan-kegiatan diskusi dengan trainer AIESEC," jelas Sherly.
 
------- dan seterusnya, siahkan kunjungi situs http://www.antara.co.id/arc/2008/9/7/mahasiswa-jepang-ikut-jual-hidangan-berbuka-di-pinggir-jalan/  ---------------------------------------------------------------

Barangkali ini satru bentuk kearifan mahasiswa UNAND Padang membaca peluang bulan Ramadhan untuk mengisi program study tour Mahasiswa-mahasiswa Jepang di Padang, dan mereka professional mengemasnya untuk kegiatan belajar pariwisata.
Karena itu amat diperlukan Proffessional.

--
Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min sakhati-ka wa an-naar
Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa sabaquuna bil-imaan,wa laa taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu Rabbana innaka ghafuurun rahiim.

Mulai ”Tergusur” Perkembangan Zaman
Menyigi Masjid-masjid Bersejarah yang Hampir ”Terlupakan” 
Sample Image
Masjid Bingkudu di Candung, Kabupaten Agam

Keberadaan Masjid tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Islam di Minangkabau. Sebab sebagai salah satu tempat ibadah, masjid merupakan bangunan suci yang mesti ada pada suatu daerah ataupun perkampungan yang berpenduduk muslim.

Sampai saat ini, jumlah masjid yang tercatat di Departemen Agama Provinsi Sumbar, sekitar 5.682 unit. Dari jumlah itu, cukup banyak masjid-masjid bersejarah, bahkan berumur ratusan tahun, yang nyaris terlupakan. Karena di samping gencarnya pembangunan masjid-masjid baru, kurangnya perawatan dan renovasi, membuat “surau-surau” tua itu tenggelam dimakan usia.

Padahal dulu, selain sebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan tempat  belajar. Tak jarang, para alim ulama, cerdik pandai, dan tokoh-tokoh besar negeri ini lahir dididik di masjid. Mulai dari belajar tentang agama, adat istiadat, ilmu beladiri silat, tempat musyawarah, serta banyak kegunaan positif lainnya.

Jadi saat itu, masjid tidak saja diramaikan golongan tua-tua saja, tetapi merupakan tempat berkumpul anak-anak muda. Bahkan para lelaki Minangkabau juga memiliki pantangan tidur di rumah setelah mulai baligh. Rumah hanya di tempati pada siang hari, setelah sekolah dan menolong orangtua, biasanya “bujang-bujang” Minangkabau melanjutkan aktivitasnya di masjid.

Sesuai dengan falasafah yang dipegang teguh masyarakat “Adat Basandi Sara’ Sara’ Basandi Kitabbullah’, maka tak urung lagi, bahwa sejak dulu penduduk Minangkabau dikenal sebagai orang yang taat beragama dan teguh memegang adat. Namun kalau nostalgia itu dibawa pada kondisi sekarang, sepertinya tinggal sedikit yang tersisa.

Akan sangat jarang sekali, ditemukan anak muda yang tidur di surau, mempelajari agama, menghidupkan masjid dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Atau sedikit sekali terlihat orangtua yang menyuruh anak-anaknya menjadi remaja masjid, yang selalu ke masjid untuk beribadah dan belajar. Tetapi tidak akan sulit menemukan mereka di tempat-tempat hiburan, plaza-plaza, supermarket, serta pusat-pusat keramaian lainnya.

Apakah masjid di Sumbar ini sudah mulai “lapuk”, tergerus seiring perkembangan zaman? Lapuk, di sini tentu mempunyai pengertian yang cukup luas, tidak saja lapuk pada tatanan fisik, tapi juga “lapuk” dalam aspek nonfisik. Dan yang cukup memilukan adalah masjid-masjid yang lapuk, kedua-duanya, fisik dan non fisik.

Dari penelusuran Padang Ekspres, bersama Padang TV pada beberapa daerah di Sumbar, ternyata cukup banyak ditemukan kondisi masjid yang kurang mendapat perhatian. Seperti Masjid Syech Daud, yang terletak di Nagari Malampah Kecamatan Tigo Nagari, Kabupaten Pasaman Barat. Masjid yang mempunyai nilai sejarah cukup tinggi ini, nyaris terlupakan keberadaannya. Padahal, masjid yang didirikan pada tahun 1890, mempunyai peran yang sangat penting dalam pengembangan ajaran Islam di daerah tigo nagari.

Nama Syech Daud sendiri, diambil dari nama pendiri masjid, yaitu seorang ulama besar Sumbar, yang berasal dari Nagari Malampah. Ada hal cukup unik terlihat, saat masuk ke dalam masjid yang terdiri dari 10 buah tiang, 6 jendela. Dimana akan ditemukan bendera merah putih terpasang di sekeliling dinding masjid. Menurut cerita masyarakat sekitar, bendera tersebut dijahid murid-murid Syech Daud. Namun sayangnya sampai kini tidak ada masyarakat yang mengerti makna pemasangan kain merah putih itu.

Menurut Abdullah Hukum, ulama pada daerah Durian Gunjo, bendera itu sudah terpasang sejah tahun 1926. Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia di proklamirkan, bahkan dua tahun sebelum pelaksanaan kongres pemuda pertama tahun 1928. “Kain merah putih itu di pasang dua lapis. Bahagian luarnya memang sudah agak kusam, tetapi yang di dalam masih bewarna terang. Namun sayang kami tidak mengetahui makna dari pemasagan kain yang menyerupai bendera merah putih,” katanya.

Masjid yang telah berumur lebih dari satu abad ini kendatipun masih terlihat kokoh, namun dinding dan tiang-tiangnya sudah mulai lapuk dimakan usia. Sedangkan masyarakat dengan swadaya sendiri hanya mampu memelihara seadanya. Sampai sekarang aktivitas keagamaan pada masjid satu-satunya di Jorong Siparayo, Durian Gunjo tetap berlanjut. Seperti untuk shalat Jumat, wirid, pengajian, tadarus, ataupun untuk shalat tarwih.

“Agar masjid ini senantiasa terawat dan terjaga, kami sangat mengharapkan uluran dari semua pihak. Sehingga keaslian dan nilai sejarah yang dimiliki masjid ini tidak tenggelam seiring dengan waktu,” ucap Wali Nagari Malampah, Asri Nur yang waktu itu ikut menemani.

Selain di Pasaman, pada Nagari Candung, Kecamatan Agam juga terdapat sebuah masjid kuno, yang masih bisa dinikmati sampai saat ini, yakni Masjid Bingkudu. Menurut cerita masyarakat sekitar, masjid ini dibangun pada tahun 1813 yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh tujuh nagari. Ketujuh nagari itu adalah Canduang, Koto Lawas, Lasi Mudo, Pasanehan, bukit batabuah, Lasi Tuo.

Masyarakat secara bersama-sama membangun masjid seluas 21 x 21 M dengan tinggi 37,5 meter ini. Menariknya hampir semua material yang pergunakan untuk membuat tempat beribadah ini berasal dari kayu, baik lantai, dinding, maupun tiang-tiangnya. Sedangkan atapnya yang berundak tiga, terbuat dari susunan ijuk.

Bangunan ini saat didirrikan memakai sistem pasak. Artinya tidak satupun dari komponen penyusun masjid ini yang dilekatkan satu sama lain dengan menggunakan paku. Lampu-lampu minyak yang yang terpajang pada setiap sudut masjid rata-rata juga sudah menjadi barang antik, karena telah berumur ratusan tahun.

Pekarangan di sekitar masjid cukup indah. Tiga kolam ikan, serta satu kolam besar untuk berwudhuk membuat kesan masjid yang cukup jauh dari pemukiman penduduk itu semakin alami. Dulunya air untuk berwudhuk dialirkan dengan bambu sepanjang 175 meter dari kelurahan. Namun sekarang untuk memperlancar aliran air, salurannya diganti dengan pipa besi.

Selain itu, pada pekarangan masjid juga terdapat sebuah menara denga ketinggian 30 meter. Seperti kebanyakan masjid yang ada, menara ini digunakan untuk mengumandangkan azan, terutama saat belum ada pengeras suara. Sementara di halaman masjid terdapat makam Syech Ahmad Thaher, pendiri sekolah pendidikan Islam yang lebih dikenal dengan MUS (Madrasah Ulumi Syriah). Ia meninggal sekitar 13 Juli 1960.

Pada tahun 1957, atap masjid yang terbuat dari ijuk, diganti masyarakat dengan seng. Itu dilakukan karena ijuk yang yang mengatapai ruangan masjid dari hujan dan panas telah lapuk. Dua tahun kemudian dilakukan renovasi dan pemugaran terhadap bangunan masjid yang lainnya.

Menurut Kepala KUA Candung, Ramza Husmen yang ikut langsung meninjau Masjid Bingkudu mengatakan pada tahun 1999, masjid ini diserahkan kepada Pemkab Agam, dan ditetapkan sebagai salah satu bangun cagar budaya di Agam. Dua tahun setelah itu, masjid mengalami pemugaran secara keseluruhan. “Atapnya yang dulu seng dikembalikan ke ijuk. Kemudian bagian-bagian yang lapuk diganti dan serta dicat lagi sebagaimana aslinya,” kata Ramza.

Aktivitas keagamaan tetap berlangsung di tempat ini. Baik untuk shalat berjamaah setiap hari, shalat Jumat, serta ibadah lainnya. Apalagi saat bulan Ramadhan kali ini, intensitas kunjungan masyarakat terhadap masjid sangat tinggi. Hanya saja seperti yang diingikan warga, perhatian pemerintah berlangsung secara kontiniu.

Seperti sekarang beberapa bagian dari bangunan pasca direnovasi tahun 1992, juga haru mendapat pembenahan lagi. “Warga juga telah melakukan perbaikan, tetapi memang semampunya. Kami ingin masjid ini bisa dinikmati sampai kapanpun sebagai tempat beribadah,” pungkas Ramza.

Di Kota Padang, selain Masjid Raya Gantiang juga terdapat masjid kuno lainnya yang didirikan sekitar tahun 1750 M. Masjid yang berada di sekitar kawasan Batang Arau itu bernama Masjid Nurul Huda. Batang Harau sejak ratusan tahun lalu memang telah berkembang sejak ratusan tahun lalu. Sampai saat ini pun kita masih bisa melihat deretan bangunan-bangunan kuno yang berjejer sepanjang sisinya.

Masjid ini sepertinya hampir luput dari perhatian warga Kota Padang. Setelah ratusan tahun berada di hiliran Batang Arau, memberikan pengajian pada warga sekitar, namun sampai sekarang belum masuk dalam salah satu cagar budaya, di Kota Padang.

Ini mungkin terjadi, karena bangunannya sudah tidak asli lagi. Memang, sejak tahun 1960-an bangunan asli Masjid Nurul Huda yang berbahan kayu diganti dengan semen. Sama seperti fungsi masjid pada zaman dulu, selain tempat beribadah, juga sebagain tempat menimba ilmu.

Cukup banyak imam-imam langsung mengajarkan agama kepada di masjid ini, terakhir adalah Imam Abdul Wahab. Hingga akhir hayatnya pada tahun 1940, imam yang lahir tahun 1880 ini mengabdikan dirinya untuk mengajarkan Islam kepada  masyarakat, terutama tentang masalah ketauhidan.

Usman rajo Lelo (80), salah seorang anak didik Imam Abdul wahab yang masih hidup saat ini, mengaku masih mengingat jelas cara mengajar yang diterapkan Imam Abdul Wahab. “Kami belajar mengaji setiap selesai Shalat Magrib hingga selesai waktu shalat Isya. Cara imam mengajar kami sangat khas. Setiap ayat-ayat Alquran dilantunkan dengan irama yang menawan. Sehingga anak-anak yang belajar saat itu sangat menyenangi pelajaran mengaji. Setelah mengaji para anak laki-laki belajar silat hingga tengah malam,” terang Usman.

Dengan jumlah masjid di Sumbar yang mencapai 4.682 unit, masjid-masjid kuno yang mempunyai nilai penting baik dari segi sejarah dan pengembangan Islam, tentu tidaklah seberapa. Namun kesadaran semua pihak untuk melestarikan dan memberdayakan masjid yang ada adalah keharusan.

Di sisi lain, kembali ke masjid harus diarifi semua tidak saja dengan ucapan tetapi juga perbuatan. Yakni menjadikan masjid sebagai tempat belajar dan sumber ilmu. Pengembangan perpustakaan masjid, pendirian pusat-pusat kajian Islam, mengharuskan setiap masjid memiliki TPA dan TPSA, merupakan hal yang harus dilakukan. Kalau tidak, masjid tentunya akan “lapuk” tidak saja ditelan waktu, tetapi juga ditelan perkembangan zaman. (ak/mg7/tim padang tv)

 

© 2008 PADANG EKSPRES - Koran Nasional Dari Sumbar

BALIMAU

 

‘Besok hari balimau. Mama jadi ingat nenek. Beliau biasanya punya kesibukan tambahan di hari balimau,’ celetuk istriku di meja makan ketika kami sedang makan malam.

 

‘Kesibukan tambahan? Kesibukan apa maksudnya?’ tanya puteriku.

 

‘Menyiapkan kebutuhan balimau untuk semua orang. Bunga rampai, jeruk nipis atau limau sungguhan untuk keperluan  mandi balimau,’ jawab mamanya.

 

Balimau maksudnya mandi membasahi rambut alias berkeramas, kan? Waktu itu belum ada shampoo barangkali ya ma, ya?’

 

‘Mandi membasahi rambut dan membersihkan kulit kepala dengan irisan jeruk nipis. Kemudian meyiram badan dengan air yang ditaburi bunga rampai. Memang belum ada shampoo waktu itu. Paling tidak, belum populer.’

 

‘Pa, sebenarnya mandi balimau itu ada tuntunannya nggak, sih?’ puteriku kali ini mengarahkan pertanyaan kepadaku.

 

‘Maksudmu balimau menjelang puasa?’

 

‘Ya. Seperti yang diceritakan mama itu. Apa ada keharusan kita untuk mandi balimau sebelum masuk bulan puasa?’

 

‘Setahu papa tidak ada tuntunannya. Berbeda dengan mandi di hari Jumat bagi laki-laki sebelum berangkat pergi shalat Jumat. Itu ada haditsnya. Tapi mandi keramas, atau balimau sebelum masuk bulan puasa tidak ada haditsnya,’ jawabku.

 

‘Kalau begitu, perbuatan itu sesuatu yang dibuat-buat dong. Sama juga bid’ah dong,’ lanjutnya lagi.

 

‘Mudah-mudahan tidak sejauh itu. Mandi berbersih-bersih kapan saja adalah perbuatan yang baik dan dianjurkan. Jadi balimau itu ya, mubah. Boleh-boleh saja, karena itu bukan merupakan ibadah khusus.’

 

‘Tapi? Ada hubungannya tidak dengan ibadah puasanya sendiri? Maksudnya apakah kalau tidak balimau puasa tidak afdal atau bagaimana?’

 

‘Jelas tidak ada hubungannya. Tanpa balimaupun, kita harus menjalankan puasa. Dan ketika kita melakukan ibadah puasa sesuai dengan rukun dan syaratnya, padahal kita tidak mandi balimau sebelum puasa, maka puasa kita itu insya Allah sah-sah saja.’

 

‘Tapi kenapa orang mesti balimau?’

 

‘Maksudnya sebagai penghormatan menyambut bulan suci Ramadhan. Orang ingin tampil bersih dan wangi ketika mengawali bulan suci itu. Balimau dilakukan pada sore hari menjelang maghrib. Malamnya orang shalat tarawih beramai-ramai di mesjid dalam keadaan yang masih segar dan wangi. Jadi ya, wajar-wajar saja kebiasaan itu.’

 

‘Tradisi balimau sepertinya hanya ada di Minangkabau. Benarkah demikian, pa ?’

 

‘Boleh jadi,’ jawabku pendek.

 

‘Tapi kenyataan di tengah masyarakat, seperti sering diberitakan koran-koran, tradisi ini kemudian menjurus kepada sesuatu yang kurang baik. Bagaimana komentar papa tentang itu ?’

 

‘Maksudmu ?’

 

‘Saya baca di koran yang terbit di Padang, bahwa orang pergi melakukan upacara balimau berbondong-bondong ke suatu tempat. Lebih tepat disebut pergi piknik. Di tempat mandi balimau itu becampur baur laki-laki dan perempuan. Ada juga yang sesudah itu asyik berpacaran. Bukankah itu keliru? Masih dapat jugakah yang demikian itu disebut sebagai tradisi balimau menjelang memasuki bulan puasa?’

 

‘Kamu benar sekali. Perbuatan seperti itu tidak sedikitpun menunjukkan penghormatan kepada kedatangan bulan suci Ramadhan.  Mereka itu tidak mengerti arti kesucian bulan Ramadhan. Mereka mengotorinya dengan apa yang mereka lakukan.’

 

‘Kalau sudah begitu, apakah tidak sebaiknya acara balimau itu dilarang saja? Oleh pemerintah daerah atau oleh ulama di daerah?’

 

‘Yang keliru tentu harus diperbaiki. Yang salah jangan dibiarkan terus-terusan salah. Harus diperbaiki dan diarahkan dengan bijaksana. Ulama, ustad, dai, penceramah harus lebih bijak dalam meluruskan makna Ramadhan. Makna persiapan menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Seperti yang dikatakan mamamu tadi, nenekmu dulu menyiapkan segala sesuatu untuk balimau di rumah dan mandi balimaunya sendiri dikerjakan di kamar mandi di rumah. Dikerjakan sendiri-sendiri. Tidak ada hura-hura dalam pelaksanaannya. Tidak mesti pergi ke sebuah telaga atau danau dalam rombongan besar mengerjakannya.’

 

‘Tapi katanya pula, kegiatan seperti itu dijadikan tontonan wisata. Dikenalkan kepada para pendatang dari luar daerah, seolah-olah itu adalah sebuah adat. Sebuah tradisi dalam menyambut kedatangan bulan puasa. Nah, bagaimana itu pa?’

 

‘Itu yang salah. Para ulama harus tegas memberikan pencerahan kepada masyarakat luas. Adalah tugas para ulama untuk menjelaskan apakah suatu amalan itu benar atau salah, apalagi yang dikaitkan dengan ibadah.  Berpuasa di bulan Ramadhan itu bukan sembarang ibadah. Puasa itu adalah rukun Islam, yang harus dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Dikerjakan dengan keimanan dan keikhlasan semata-mata karena Allah. Semua amalan, apalagi yang dilakukan di bulan puasa haruslah dengan niat untuk mencari ridha Allah. Sekarang coba kamu perhatikan perbuatan orang-orang yang pergi piknik, mandi di kolam atau di telaga, bercampur baur antara laki-laki dan perempuan seperti yang kamu katakan. Mereka menyebutnya sebagai upacara mandi balimau menjelang puasa. Itu jelas keliru. Maka, ketika ada orang yang mencampur-adukkan yang salah seperti itu untuk dikaitkan dengan ibadah, ulama harus segera mengingatkan.’

 

‘Mungkin sudah diingatkan. Mungkin sudah ada ulama yang mengingatkan, tapi masyarakat saja yang tidak tanggap,’ istriku turut menyela.

‘Mungkin juga. Dan kalau demikian berarti ulama harus lebih giat lagi mengingatkan. Termasuk mengingatkan para penjabat di daerah agar mereka ikut serta memberikan penyuluhan kepada masyarakat.’

 

‘Kalau penjabatnya justru melihat hal itu sebagai suatu atraksi untuk dikonsumsi turis, bagaimana, pa?’

 

‘He..he..he.. Ya nggak akan habis-habis. Tapi disitulah diuji ketekunan para ulama. Untuk menyeru kepada kebaikan. Untuk mengingatkan umat agar tidak mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil. Wa laa talbisul haqqa bil baathili wa taktumul haqqa wa antum ta’lamuun, firman Allah. Janganlah kamu campur-adukkan kebenaran dengan yang bathil. Dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran itu. Padahal kamu mengetahui.’ (Al Baqarah 42)

 

‘Begitu ya, pa.’

 

‘Ya, begitu.’

 

‘Lalu bagaimana dengan kebiasaan orang pergi berziarah kubur di hari menjelang puasa seperti yang kita lihat di Jakarta? Apakah itu ada tuntunannya pula?’

 

‘Menziarahi kubur ada tuntunannya. Ada hadits Nabi SAW tentang itu. Berziarah itu boleh dilakukan kapan saja. Yang paling utama dari berziarah kubur itu sebenarnya adalah mengingatkan kita, yang berziarah itu, kepada mati. Kepada kematian yang juga akan mendatangi kita. Bahwa kita suatu saat nanti juga akan jadi penghuni kubur. Doa yang diajarkan Nabi ketika kita berziarah adalah mengucapkan salam kepada ahli kubur yang Islam dan beriman lalu mengatakan bahwa kitapun, yang berdoa, suatu saat akan bergabung dengan mereka di alam kubur. Hanya itu yang kita lakukan. Ketika berziarah itu.’

 

‘Lalu bagaimana dengan orang yang datang berziarah ke kuburan, di hari-hari menjelang puasa, lalu menebarkan bunga, menyiramkan air dari kendi di kuburan itu, membaca surah Yasiin disana? Apakah itu amalan yang benar?’

 

‘Itu amalan yang tidak ada dalilnya. Amalan yang memperturutkan dugaan hati, seolah-olah dengan cara seperti itu si pelaku masih membina hubungan dengan orang yang ada di dalam kubur. Menebar bunga di atas kuburan. Apa maksudnya? Apakah supaya si mayat, yang sudah menjadi tulang belulang mencium harumnya bunga? Jelas tidak mungkin itu. Begitu juga dengan menyiramkan air dari kendi. Apakah maksudnya untuk mendinginkan udara dalam kuburan? Atau untuk minum mayat yang ada di dalamnya? Juga tidak mungkin yang demikian. Membaca surah Yasiin adalah suatu amalan, untuk yang membaca. Jadi tidak mesti dilakukan di atas kuburan.’

 

‘Pendapat orang yang membacakan itu agar pahalanya untuk si ahli kubur,’ istriku ikut menyela lagi.

 

‘Tidak ada hadits tentang membagi pahala dari sebuah amalan. Allah mengingatkan bahwa seseorang tidak akan mendapatkan pahala kecuali dari apa yang diperbuatnya sendiri. Wa al laisa lil insaani ilaa maa sa’aa. (Dan bahwasanya manusia itu hanya memperoleh ganjaran dari perbuatan yang dilakukannya. (An Najm;39)).

 

‘Tapi kata mereka, kata teman-temanku, dengan cara seperti itu mereka menunjukkan rasa cinta mereka kepada keluarga yang sudah mati. Jadi cara itu tidak tepat ya, pa?’

 

‘Itu cinta bertepuk sebelah tangan namanya. Yang dicintai di dalam sana tidak akan merasakan kehangatan cinta dengan amalan seperti itu. Seandainya yang di dalam kubur itu orang tua, doakan saja mereka, mintakan ampunan atas dosa-dosa mereka, orang tua kita itu, tanpa harus datang ke kuburnya. Tapi kalau yang di dalam kubur itu hanya sebatas pacar, bukan keluarga kita, belum ada hubungan kekeluargaan dengan kita, bukan mahram kita, perbuatan ziarah kita dengan tabur bunga, dengan siraman air jelas tidak ada maknanya sama sekali buat si mayat dalam kubur.’

 

‘Tapi kenyatannya banyak sekali orang melakukan ziarah kubur khusus menjelang puasa sampai-sampai jalan dekat TPU macet total. Apakah seharusnya ulama juga memberikan pencerahan pula dalam hal ini menurut papa?’

 

‘Harusnya begitu. Kebanyakan masyarakat melakukan sesuatu tanpa ilmu, bahkan hanya karena ikut-ikutan. Padahal untuk beramal itu harus ada ilmunya.’

 

‘Di TPU banyak sekali ustad, atau orang yang pandai bedoa, yang mendapat permintaan dari penziarah untuk memanjatkan doa bahkan membacakan surah Yasiin. Bagaimana menurut papa?’

 

‘Ya itulah repotnya.’

 

‘Apa yang papa lakukan ketika menziarahi kuburan inyiak?’

 

‘Membaca doa seperti yang diajarkan Nabi SAW; Assalamu’alaikum ya ahliddiyaari, minal mukminiina wal muslimiina, wa innaa insya Allahu bikum la hiquun. Keselamatanlah bagi kalian wahai ahli kubur, orang-orang Mukmin dan orang-orang Muslim. Dan kami insya Allah juga akan menyusul di belakang.’

 

‘Papa tidak mendoakan inyiak?’

 

‘Papa mendoakan beliau lima kali sehari semalam. Sehabis shalat.’

 

‘Apakah dikuburan kita tidak boleh berdoa?’

 

‘Boleh saja. Tidak ada larangan.’

 

Kami mengakhiri diskusi di meja makan sampai disitu.

 

 

                                   

                                                                        *****

   
  

Ulama Sumbar: Tinggalkan Tradisi “Balimau”
 
Hidayatulllah.com--Ulama Sumbar, Buya Masoed Abidin, mengatakan, 'budaya balimau', yakni tradisi masyarakat Sumbar mandi bersama-sama di tempat wisata pemandian di sungai-sungai atau lubuk sehari menjelang puasa datang, sebaiknya ditinggalkan karena tidak diajarkan agama Islam.
"Balimau menyambut Ramadhan dengan mandi berbuka aurat laki-laki atau perempuan tidak pernah diajarkan agama, dan tak perlu berwisata ke lubuk-lubuk pemandian dan sungai-sungai yang akan merusak adat dan akhlak," katanya.
 
Ia mengatakan itu terkait 'balimau', yakni satu tradisi masyarakat Kota Padang selalu menyambut bulan suci Ramadhan dengan kegiatan mandi bersama di tempat-tempat wisata pemandian yang ada di Kota Padang, Lubuk Paraku, Lubuk Minturun, Lubuk Tempurung Aie Dingin dan lainnya.
Tradisi ini dilakukan sehari menjelang puasa datang.
 
Menurut dia, balimau merupakan kegiatan yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. "Islam tidak mengizinkan kaum laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim mandi bersama dalam satu tempat," kata buya yang juga salah seorang ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar itu.
Ia mengatakan, Islam mengajarkan umatnya beramal untuk menyempurnakan ibadah dan membersihkan diri lahir batin, bukan mengotorinya.
 
Umat Islam, ajaknya lagi, berwisatalah ke dalam lubuk hati dengan merenungi nikmat Allah Swt, bertauhid dan tak perlu berwisata ke lubuk-lubuk pemandain dan sungai-sungai yang pada akhirnya akan merusak adat dan akhlak itu.
 
"Kegiatan itu sebaiknya diganti dengan kegiatan yang bermanfaat lainnya seperti berkunjung ke sanak famili, kerabat dekat dan handai taulan lainnya. Atau menggantinya dengan kegiatan syukuran, doa bersama. Kegiatan ini jauh lebih bermanfaat dan diridhai Tuhan," katanya.
Ia menjelaskan, Ramadhan adalah bulan terpilih, bulan berpuasa, bulan Al-Quran dan bulan ibadah, serta latihan takwa dan lainnya untuk memupuk syukur. [ant/www.hidayatullah.com]
 
 
BALIMAU: SISA RITUAL HINDU
Oleh: Azhari
 
Tradisi Balimau biasanya diadakan sehari menjelang memasuki puasa bulan Ramadhan, sebelum senja menjelang masyarakat berduyun-duyun menuju sungai dan danau dengan mengadakan mandi massal. Laki-laki dan wanita, tua dan muda semua tumpah ruah di berbagai sungai dan danau di Sumbar, tempat yang biasanya dijadikan tradisi balimau adalah Batang Kalawi, Lubuk Minturun, Lubuk Paraku, Lubuk Hitam dan Kayu Gadang. Tradisi yang mirip balimau juga diadakan di luar Sumbar, seperti di Sungai Kampar (Riau) dengan istilah “Balimau Kasai” Tidak ada riwayat yang sahih sejak kapan tradisi balimau ini dimulai.
 
Tidak afdhal balimau jika tidak keramas dengan harum-haruman yang terdiri dari jeruk purut dan bunga rampai. Sehingga disinyalir kata “Balimau” ini muncul dari bahan untuk keramas yang menggunakan jeruk purut (limau).
 
Tujuan balimau untuk menyucikan diri sebelum memasuki bulan Ramadhan, wujud penyucian diri ini dengan mandi di sungai dan danau, keramas dengan jeruk dan bunga rampai yang wangi. Setelah balimau kemudian bermaaf-maafan karena akan memasuki bulan Ramadhan, malamnya shalat tarawih dan besoknya berpuasa.
 
Bukan dari Ajaran Islam
 
Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan ketika memasuki bulan Ramadhan agar mandi dengan menyiram sekujur tubuh (mirip mandi junub), dalam Islam dianjurkan sebelum memasuki puasa agar saling memaafkan karena Ramadhan adalah bulan untuk bertaubat, sementara ampunan Allah swt terhalang jika urusan sesama manusia belum diselesaikan. Disamping itu, kaum muslimin dianjurkan mempersiapkan diri sebaik mungkin secara fisik dan rohani agar memperoleh hasil optimal dalam menjalankan ibadah Ramadhan.
 
Persiapan sebelum memasuki Ramadhan yang diajarkan Islam, antara lain: 1) Persiapan nafsiyah, yakni menyucikan jiwa (tazkiyatun nafsi) sehingga mempunyai sifat ikhlas, sabar dan tawakal. 2) Persiapan tsaqafiyah, yakni mendalami fiqih puasa sehingga paham bagaimana berpuasa sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw dan paham apa saja yang membatalkan puasa. 3) Persiapan jasadiyah, karena aktifitas Ramadhan memerlukan kekuatan fisik seperti melakukan puasa, shalat tarawih dan ibadah lainnya, fisik yang lemah/tidak sehat tentu akan mengurangi kekhusyukan dalam beribadah.Lihat 1, hal 11
 
Berasal dari Ajaran Hindu
 
Kaum Paderi yang baru pulang dari Mekah menjadi penggerak di tanah Minang untuk membersihkan ajaran Islam yang masih bercampur dengan ajaran Hindu, di bawah pimpinan Haji Miskin di Pandai Sikek. Kaum Paderi melihat contoh ketegasan kaum Wahabi dalam menjalankan Islam di tanah Arab. Menurut keyakinan mereka , agama Islam harus dibersihkan dari pengaruh agama lain seperti Hindu.Lihat 2, hal 10-13
 
Setidaknya ada 3 hari raya Hindu yang mengadakan ritual menyucikan diri dengan mandi di Sungai Gangga; 1) Makara Sankranti, berlangsung pada pertengahan Januari,  umat Hindu menyucikan diri di sungai Gangga sebagai bentuk pemujaan kepada dewa Surya. 2) Raksabandha, berlangsung pada bulan purnama antara  Juli-Agustus,  pagi hari umat Hindu menyucikan diri ke sungai Gangga untuk menguatkan tali kasih sayang diantara mereka. 3) Vasanta Panchami, berlangsung bulan Januari-Februari,  umat Hindu menyucikan diri di sungai Gangga untuk menyambut musim semi.Lihat 3
 
Sehingga diyakini tradisi balimau merupakan asimilasi antara ajaran Islam dengan Hindu, Islam mengajarkan untuk mempersiapkan diri sebelum memasuki bulan Ramadhan baik fisik maupun rohani, tetapi persiapan diri menggunakan cara Hindu menyucikan diri dengan mandi massal di sungai dan danau.
 
Mengotori Kesucian Ramadhan
 
Ramadhan bulan suci dimana umat Islam berlomba-lomba memperbanyak ibadah karena nilai pahalanya berlipat-ganda, mereka berpuasa di siang hari, shalat tarawih di malam hari, memperbanyak dzikir, baca Al-Quran, mengkaji Islam, bersedekah dan ibadah lainnya. Tetapi sebelum memasuki Ramadhan terlebih dahulu dikotori dengan perbuatan maksiat yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam, seperti balimau. Amalan ini sama sekali tidak bernilai pahala di sisi Allah swt karena tidak ada tuntunan dari Allah dan rasul-Nya, malah dosa yang akan diperoleh.
 
Acara balimau banyak mudharat daripada manfaatnya. Balimau merupakan kesempatan bagi para muda-mudi untuk berpacaran dan mencari jodoh, ajang cuci mata bagi mereka yang iseng karena ketika mandi dan pakaian menjadi basah akan memperlihatkan lekuk tubuh, campur baur (ikhtilath) antara laki-laki dan wanita di sungai dan danau yang tidak dibenarkan oleh ajaran Islam.
 
Islam mengharamkan pacaran (khalwat) sebelum menikah, ajaran Islam sebelum memasuki jenjang pernikahan adalah ta’aruf (berkenalan), khitbah (meminang) dan kemudian menikah (aqad nikah). Islam juga mengajarkan mandi di tempat tertutup untuk melindungi kehormatan, bukan di tempat umum seperti tradisi balimau. Islam mewajibkan muslim dan muslimah untuk menutup aurat, aurat laki-laki antara pusar dan bahwa lutut, sedangkan aurat wanita yang boleh tampak adalah muka dan telapak tangan, berjilbab tetapi berpakaian ketat dianggap masih membuka aurat karena masih memperlihatkan lekuk tubuh. Islam mengatur kehidupan laki-laki dan wanita secara terpisah, campur baur (ikhtilath) tidak dibenarkan oleh Islam.
 
Begitu mulia ajaran Islam agar kehidupan ini lebih baik, kenapa kita masih mengabaikan aturan Allah swt dengan alasan tradisi atau pariwisata? Untuk apa memperoleh keuntungan dari pariwisata tetapi dengan melakukan perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah swt?
 
Wallahua’lam.
 
Sumber Bacaan:
 
1. Ramadhan Bulan Istimewa bagi Kaum Muslmin, Muhammad Ramadhan al-Mutashib (e-book).
2.  Islam dan Adat Minangkabau, Hamka, Pustaka Panjimas, cetakan II, Agustus 1985.
3.  http://www.parisada.org/: Hari Raya Hindu di Indonesia dan India : Sebuah perbandingan Pintas, I Made Titib.

Mari kita ucapkan Selamat Datang Ramadhan, dan kita mulai dengan
mempedomani bimbingan Rasulullah SAW tentang keutamaan bulan Ramadhan
 
عَنْ سَلْمَانُ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قال: خَطَبَنَا رسول الله صلعم فِى آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شِعْبَانَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلُّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ مُبَارَكٌ شَهْرٌ فَيْهَ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مَنْ أَلْفِ شَهْرٍ شَهْرٌ جَعَلَ اللهُ صَيَامَهُ فَريِْضَةٌ وَ قَيَامَ لَيْلَهِ تَطَوُّعًا مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِى مَا سَوَاهُ وَ مَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فَيْهَ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِى مَا سِوَاهُ وَ هُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ وَ الصَّبْرُ صَوَابُهُ الْجَنَّةُ وَ شَهْرُ المَوَاسَاةِ و َشَهْرُ يُزَادُ فَى رِزْقِ المُؤْمِنِ فَيْهَ مَنْ فَطَّرَ فِيْهَ صَائِمٍ كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنوُبْهِ وَ عِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ وَ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقَصَ مَنْ أَجْرِهَ شَيْءٌ قَالُوْا يَا رسول الله: لَيْسَ ُكلُّنَا يَجِدُ مَا يُفَطِّرُ صَائِمًا. فقال رسول الله: يُعْطِى الله هَذاَ الثوّاَبَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى ثَمْرَةٍ أو شَرْبَةٍ مَاءٍ أو مَذْقَةٍ لَبَنٍ. وَ هُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَ أَوْسَطُهٌ مَغْفِرَةٌ و آخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ فِيْهِ غَفِرَ اللهُ لَهُ وَ اعْتَقَهُ  مِنَ النَّارِ وَ اسْتَكْثَرُوْا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ ِخصَالٍ: خَصْلَتَيْنِ  تَرْضُوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ خَصْلَتَيْنِ لاَ غِنَاءَ بِكُمْ عُنْهُمَا. فَأَمَّا الخَصْلتَـَانِ اللِّسَانِ تُرْضُوْنَ ِبِهمَا رَبَّكُمْ فَشَهَادَةُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إلا اللهُ وَ تَسْتَغْفِرُوْنَهُ وَ أَمَّا الخِصْلَتَانَ اللَّتَانِ  لاَ غِنَاءَ بكُِمْ عَنْهُمَا فَسْئَلُوْنَ الله الجَنَّةَ وَ تعَوُْدُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ وَ مَنْ سَقَى صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ خَوْضِى شَرْبَةً لاَ يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الجَنَّةَ.

Diriwayatkan dari Salman r.a, dia berkata, "Rasulullah SAW. telah memberi khutbahkepada kami pada akhir bulan Sya'ban, kemudian beliau bersabda, "Wahai manusia, sungguh telah dekat bulan yang agung lagi penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik pada seribu bulan. Bulan yang di dalamnya Allah telah menjadikan puasa sebagai fradhu dan bangun malam sebagai sunnat.

Barangsiapa yang mendekatkan diri di dalamnya dengan melakukan amalan sunnah maka (pahalanya) seperti orang yang melakukan amalan fardhu pada bulan lainnya. Dan barangsiapa yang melakukan amalan fardhu di dalamnya, maka (pahalanya) seperti orang yang melakukan tujuh puluh amalan fardhu pada bulan lainnya.

Inilah bulan kesabaran dan pahala sabar adalah surga. Inilah bulan kasih sayang, bulan saat rezeki seorang mukmin ditambahkan.

Barangsiapa pada bulan tersebut memberi perbukaan pada orang yang berpuasa maka ia menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang sama tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang itu.

Mereka berkata, "Wahai Rasuluhan,tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa". Beliau bersabda, "Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meskipun dengan sebutir kurman, seteguh air, atau seteguk (secuil) susu.

Inilah bulan yang awalnya penuh ramat, pertengahannya penuh ampunan, dan akhirnya penuh kebebasan dari api neraka. Barangsiapa yang meringankan beban hamba-hamba sahanyanya pada bulan itu maka Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.

Perbanyaklah pada bulan itu melakukan empat hal. Dua di antaranya dapat membuat Tuhanmu Ridha. Dan dua hal lainnya kamu pasti berhajat kepada-Nya.

Adapun dua hal yang dapat membuat Tuhanmu ridha adalah bersaksi tiada tuhan selain Allah dan kamu mohon ampun kepada-Nya. Sedangkan dua hal yang kamu pasti berhajat kepadanya adalah kamu mohon surga kepada Allah dan kamu berlindung kepadanya dari neraka.

Barangsiapa memberi minum orang yang berbuka puasa maka Allah akan memberinya minum seteguk air di mana ia tidak akan merasa haus hingga masuk surga" (HE. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

 

عن أبى هُريرةَ رضى الله عنه أن رسول الله صلعم قال: الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثُ وَلاَ يَجْهَلُ و إنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنّىِ صَائِمٌ. وَ الذِي نَفْسِى بِيَدِهِ لَحُلُوْفٌ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ الله تعَاَلىَ مِنْ رِيْحِ الِمسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامهُ و شَرَابَهُ و شَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى، الصِّيَامِ لِى وَ أَتَا أَجْزِى بِهِ، وَ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.

Diriwayatkan dari Abu Hurairata r.a Bahwasanya Rasulullah SAW. pernah bersabda: "Puasa adalah perisai (dari api neraka). Maka, orang yang berpuasa janganlah berhubungan badan dengan istrinya atau berbuat jahil, dan apabila seseorang memaki atau mengajak berkelahi, katakanlah kepadanya, "aku sedang berpuasa".

Nabi SAW menambahkan, "Demi dia yang menggenggam jiwaku, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari bau misk (haruman kasturi).

Dan inilah perkatan Allah terhadap orang yang sedang berpuasa, " ia tidak makan dan minum dan meninggalkan nafsunya semata karena Aku. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya, dan setiap kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat. (HR. Bukhari).

 

عن سَهْلٍ رضى الله عنه عن النبى صلعم قال: إِنَّ فِى الجَنَّةِ بَابًا يُفَالُ له الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ. يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟ فَيَقُوْمُوْنَ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا اُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Diriwayatkan dari Sahl r.a Nabi SAW. pernah bersabda, "Ada sebuah pintu gerbang surga yang disebut Ar Rayyan, dan orang-orang yang berpuasa kelak pada hari kiamat akan masuk ke dalam surga melalui gerbang itu. Ia (Ar Rayyan) akan berseru, "Mana orang-ornag yang berpuasa?" Mereka (orang-orang yang berpuasa) pun bangkit dan semuanya masuk (ke dalam surga) melalui gerbang itu. Setelah mereka semua masuk, gerbang itu akan tertutup dan tidak ada seorangpun yang melaluinya lagi" (HR. Bukhari)

 
Kita sambut Ramadhan dengan meningkatkan amalan dan memperbanyak ubudiyah kita dengan mengharap redha Allah SWT.

Wassalam

Buya H.Masoed Abidin



 Iqra’ bismi Rabbi-ka

Perintah Pertama Kepada Nabi saw

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق َ(1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَق ٍ(2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(3)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)

‘Iqra’ (bacalah) denqan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Iqra’ (bacalah), dan Tuhanmu lah yang Paling Pemurah, sang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia Mengajarkan kepada manusia apa sang tidak diketahuinya. (Q. Al ‘Alaq: 1-5)

Di saat usia Rasulullah SAW. hampir mencapai empat puluh tahun, beliau menyaksikan kondisi masyarakat kelilingnya disungkup oleh kejahiliyahan dan kemusyrikan. Dalam kondisi seperti itu Rasulullah mengambil keputusan untuk mencoba menjauh dari lingkungan yang tidak kondusif itu. Beliau memilih suatu gua yang tidak terlalu besar, jaraknya tidak terlalu jauh dari Makkah, yaitu gua Hira di Jahal Nur.

Pilihan Rasulullah untuk mengasingkan diri ini termasuk satu latihan dan ketetapan Allah atas diri beliau sebagai langkah persiapan untuk menerima peran lebih besar Menjadi Rasul utusan Allah. Di gua Hira inilah wahyu Allah SWT pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yaitu firman Allah yang mengawali kitab suci Alquran, di awali dengan perintah untuk membaca (iqra' = bacalah).

Fi’l amar atau kalimat perintah iqra (bacalah) di dalam firman Allah ini sama sekali tidak menjelaskan obyek (maf 'ul bih) nya.

Dalam tinjauan ilmu Nahwu berarti bahwa perintah tersebut tidak ditujukan pada obyek tertentu. akan tetapi memiliki makna yang bersifat umum.

Menurut ilmu balaghah kalimat perintah ini tidak bersifat mutlaq, tetapi mu qayyat (bersyarat), yakni bahwa perintah iqra (membaca) pada konteks ayat bukanlah membaca sesuatu yang bebas nilai.

Akan tetapi mempunyai nilai hakiki, bismirabbika, alladzi khalaq (dengan nama Tuhanmu, Yang Maha Menciptakan).

Inilah yang membedakan antara membaca yang bernilai ibadah dengan membaca dalam bentuk yang lain dan tidak memiliki nilai apapun kecuali kesia-siaan.

Makna iqra’ ditafsirkan dengan bermacam ragam makna oleh para mufassirin (ulama tafsir).

Di antaranya, perintah iqra (bacalah) menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif dan diam kepada bergerak. yaitu;

“Bacalah yang tertulis, sehingga pengetahuan dan keahlian bertambah.

Bacalah yang didiktekan, diajarkan oleh utusan Tuhan. Sampai kamu sendiri mengerti dan yang mendengar memahami.

Bacalah yang termaktub dalam rahasia alam yang beraneka warna, agar kamu jadi sadar dan mendapat sinar iman.”

Membaca memiliki proses timbal balik antara individu secara total dengan informasi yang dibaca. Seseorang yang membaca akan memperoleh pengetahuan (ilmu).

Membaca Al-Qur’an berarti menimba ilmu dari Al Qur'an. Membaca alam berarti menggali pengetahuan dan alam.

Membaca tidak sekedar melihat atau mengeja bacaan tanpa mengetahui arti.

Disimpulkan  makna perintah iqra’ (membaca) tersebut mengandung beberapa pengertian.

Pertama,    bacalah ayat-ayat Allah sebagai kalamullah yang ada dalam Alquranul Karim (al Aayaat al Qauliyyah).  

Kedua,   bacalah ayat-ayat Allah yang tercipta dan terbentang di alam semesta (al  Aayaat al Kauniyah).

Dalam Alquran terdapat ratusan ayat yang memerintahkan manusia agar melihat. memperhatikan. memikirkan. merenungkan.

Demi terlaksananya perintah ini, maka Allah membekali manusia dengan beberapa instrumen. yang menjadi alat bagi mereka untuk memperoleh pengetahuan, di antaranya ;                  

Pancaindra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba menempati posisi yang sangat penting bagi manusia dan sangat berguna untuk menangkap pesan tentang benda-benda dan keadaan yang ada di lingkungan sekelilingnya.

Akal, yang berfungsi pada tataran rasionalitas. Akal memiliki kemampuan untuk mengumpul data, menganalisa, mengolah dan membuat kesimpulan dari yang telah tertangkap dan diinformasikan oleh pancaindra.

Intuisi atau ilham didapat tanpa melalui proses penalaran tertentu. Tidak semua orang bisa mendapatkan kemampuan intuitif dan ilham, kecuali orang-orang yang melakukan musyahadah melalui kontemplasi (perenungan), ibadah dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

Kemampuan dimiliki manusia sangat terbatas, baik bersifat fisik yang masih menyimpan misteri bagi manusia, apatah lagi yang bersifat non-fisik dan irrasional yang tidak mampu dicerna akal.

Wahyu membimbing manusia, agar tidak tertipu oleh indra dan akalnya yang terbatas itu. Wahyu memberikan kepastian agar akal tidak mengelana tanpa arab yang dapat membawa kepada ketersesatan dari kebenaran yang hakiki. Wahyu adalah pengetahuan dan kebenaran tertinggi yang datang dari Dzat Yang Maha Tinggi dan Yang Maha Tahu segala rahasia alam semesta ini. Wahyu Allah adalah kebenaran yang bersifat mutlak.

Seiring dengan berkembangnya budaya dan peradaban manusia di masa modern dan era globalisasi, situasi dan kondisi masyarakat pun mengalami perubahan yang sangat drastis. Tuntutan hidup pada segala sisi aspek kehidupan mesti dihadapi dan harus diatasi.

Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan menjadi salah satu sarana yang diperlukan dan dapat mengantarkan pada kemudahan penguasaan alam kelilingnya. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi prasyarat imperatif di dalam menatap perkembangan zaman dan menjadi dorongan inovasi peradaban semua ras manusia.

Dengan demikian, maka upaya meraihnya adalah dengan belajar. IQRA’ = bacaalah.

Allahu a ‘lam bishawab.

Wassalam

Buya H.Mas’oed Abidin


Blog EntryAug 25, '08 5:03 AM
for everyone
Mari kita ucapkan Selamat Datang Ramadhan,
dan kita mulai dengan Doa karena doa itu sangat penting.
 

عَنْ عَلِىِّ بن أَبِي طَالِبِ رَضِىَ الله عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ، قال رسول الله ص.م: الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَ عِمَادُ الدِّيْنِ وَ نُوْرَ السَّمَاوَاتِ وَ اْلأَرْضِ

"Dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama dan cahaya langit dan bumi." (HR. Al Hakim)

Doa dalam istilah agama adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya. Di antara rukun doa adalah harus terdapat pemohon, yaitu hamba. Kemudian ada Dzat yang mengabulkan permohonan kepada yang lebih tinggi  dari hamba, yaitu Allah SWT. Yang ketiga adalah permohonan itu sendiri, yaitu sesuatu yang diminta oleh manusia (pemohon).

Imam At Thiby mengatakan, doa adalah menampakkan kerendahan diri dalam keadaan tidak berdaya dan tiada berkekuatan kepada siapa doa itu di arahkan dan kemudian mengatakan hajat, keperluan, dengan ketundukan kepada yang mmempu mengabukan doa itu, yakni Allah SWT.

Doa merupakan sarana penting bagi manusia sebagai makhluk yang memiliki naluri ketuhanan (fitrah Ilahiyah), selalu butuh akan kekuatan yang Maha Tinggi dan Maha Kuat. Doa juga merupakan pengakuan akan kelemahan manusia sebagai makhluk di hadapan Khaliqnya. Dengan doa segalanya menjadi tercurahkan sehingga terjalinlah hubungan langsung antara Allah dengan hamba-Nya.

Boleh dikata hampir setiap muslim mengenal apa yang disebut doa. Dan merekapun sering melakukannya.

Bahkan seorang pendurhaka sekalipun ketika berada dalam kesusahan dia juga memohon dan berdoa kepada Allah SWT. Hal itu terjadi karena setiap orang bila berada dalam kesusahan selalu jujur terhadap dirinya. Juga, karena setiap orang dengan insting keimanannya tahu bahwa hanya Allah-lah Yang Maha Kuasa. Setiap manusia di dalam kesusahan selalu berlindung kepada Allah SWT. Allah selalu melindunginya dari bahaya atau kesusahan. Namun, kebanyakan mereka setelah selamat melupakan pertolongan dari Allah itu, dan melupakan permohonan (doa) dulu, lalu kembali kepada kesesatan. Inilah tabiat manusia yang kurang baik. Syukurlah tidak semuanya berbuat begitu, karena ada yang membatasinya, yaitu kadar iman masing-masing kepada Allah SWT. 

Karena doa adalah sebuah pengakuan dari seseorang akan kelemahannya, maka jika ada seseorang yang enggan berdoa, maka umumnya orang tersebut tergolong sombong yang merasa bahwa dirinya memiliki kekuasaan dalam memenuhi semua hajat dan keinginannya tanpa memohon bantuan kepada Khalik. Inilah manusia yang melampaui batas lantaran mereka melihat dirinya serba berkecukupan. Allah SWT berfirman:

"Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas karena dia melihat dirinya serba cukup." (Q.S Al 'Alaq: 6-7)

Begitulah kebanayakan sikap manusia yang tidak sempurna beriman, ketika sedang mendapat kesenangan dan kenikmatan, seringkali lupalah ia dengan sumber nikmat yang ada di tangan mereka, namun dikala musibah menimpa, kesusahan membelit kehidupan, mulailah ia merunduk  meratakan dahi menghiba-hiba memohon perlindungan ke haribaan Tuhannya. Ketika itu, bermunajat, berharap, memohon, dan merintih adalah perbuatan yang paling disenanginya. Keadaan manusia seperti ini disindir oleh Allah SWT di dalam Al Qur'an, sebagai berikut:

"Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa." (Q.S Fusshilat: 51)

Semestinya di kala seorang bermunajat kepada Allah, bukanlah terkabul atau tidaknya doa yang harus dijadikan tujuan munajatnya. Akan tetapi melalui doa atau munajat itu adalah bagian dari upaya mendekatkan dirinya kepada Allah atau taqarrub kepada Allah yang diutamakan.
Dengan berdoa, ia dapat berkomunikasi langsung dengan Khaliq, Sang Penciptanya. Kemudian di saat berdoa, di dalam dirinya akan lahir suatu  keyakinan bahwasanya Allah SWT Maha Mendengar, Maha Mengetahui dan Maha atas segalanya.
Dengan keyakinannya itu, timbul suatu dorongan untuk meningkatkan amal ibadah dan amal shaleh. Inilah semestinya yang tujuan utama dari sebuah doa. Artinya bahwa nilai yang lebih hakiki dari doa adalah perubahan pada diri menjadi lebih baik dan lebih shaleh.
Terkabulnya sebuah doa bukanlah semata-mata karena tangisan atau rintihan sesaat di kala munajat itu semata. 
Terkabulnya sebuah doa ada syarat yang menyertainya, di antaranya adalah didahului penyucian diri (tashfiyatul qalbi wa tazkiyatun nafsiy) sehingga diri jauh dari apa yang dimurkai Allah dan diri mendekat kepada ridha Allah.
Abu Ishaq – Ibrahim bim Adham bin Manshur (161 H/778 M) seorang sufi terkemuka kelahiran Balkh, Khurasan pernah ditanya seseorang dari Basrah. Mereka bertanya, "Mengapa doa kami tidak dikabulkan, padahal  Allah telah berfirman: "Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan bagimu."?
Ibrahim bin Adham menjawab: "Karena hati kalian telah mati."
Ditanyakan lagi : "Apa yang bisa mematikannya?" Ibrahim bin Adham menjawab,
"Delapan hal:
1. Kalian mengetahui hak Allah, tetapi tidak melaksanakan hak-Nya,
2. Kalian membaca Al Qur'an tetapi tidak mengamalkan hukum-hukum-Nya,
3. Kalian mengatakan cinta Rasulullah SAW, tetapi kalian tidak mengamalkan Sunnahnya,
4. Kalian mengatakan takut mati, tetapi kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya,
5. Kali membaca firman Allah: "Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuhmu." (Q.S. Fathir: 6), tetapi kalian mendukungnya dalam maksiat,
6. Kalian mengatakan takut api neraka, tetapi kalian menyampakkan jasad kalian ke dalamnya,
7. Kalian mengatakan cinta surga, tetapi kalian tidak berusaha untuk mendapatkannya,
8. Dan apabila kalian berdiri di hamparan kalian, maka kalian melemparkan aib-aib kalian di belakang punggung kalian, dan kalian gelar aib-aib orang lain di hadapan kalian,
lalu dengan demikian kalian membuat Tuhan kalian murka, maka bagaimana mungkin Dia mengabulkan doa kalian?"
Sebelum bermunajat menutur doa ke hadirat Ilahi, alangkah bijaksananya periksa dulu prilaku diri … murka Allah haruslah dihindari, sehingga doa terkabulkan dan amal pun diridhai ….Ingatlah selalu Firman Allah dalam QS.2 Al Baqarah ayat 186.
Maka kita masuki Ramadhan tahun ini dengan berwisata ke lubuk hati kita masing-masing, dan menghentikan berwisata ke lubuk-lubuk dan ke sungai-sungai dalam acara balimau yang telah mentradisi selama ini karena tidak ada dalam ajaran Islam.
Dasar puasa Ramadhan adalah Tauhid, dan kita awali dengan istighfar dan doa. Moga Allah menerima puasa kita di dalam Ramadhan tahun ini yang lebih berkualitas dari tahun-tahun silam. 

Allah a'lam bissawab

 
Wassalam Buya HMA

Kesenian Padang Panjang

PDF

Print

E-mail

 

Written by Zainal Piliang   

Thursday, 07 August 2008

Ratusan penonton pengunjung even Kemilau Sumatera yang digelar Departemen Kebudayaan dan Parawisata (Depbudpar) takjub menyaksikan pertunjukan kesenian Tari Piring Rancak dari Padang Panjang, Sumatera Barat di Atrium Palembang Squre (PS) Mall, Jalan Angkatan 45, Palembang, Jumat(17/7).

Tari Piring Rancak yang merupakan penampilan terakhir tim kesenian dari Padang Panjang ini berdurasi, sekitar 15 menit dibawakan tujuh penari wanita dan dua penari pria.Tari diawali dengan penampilan tiga penari wanita dengan lilin diatas kepala. Kemudian disusul penari lain, dengan meletakan lilin, mereka menari piring.

Image 

Tidak berapa lama mereka pun beraksi sambil meloncat -loncat diatas pencahan kaca. Kemudian muncul penari pria sambil membawa obor lalu berguling-guling diatas pencahan kaca dan diatas badan temannya sendiri. Kemudian menyulut badan dan tangan dengan api obor. Sehingga tak pelak lagi ratusan penonton terpukau dan kagum meyasikan atraksi yang menebarkan itu.

Image


Tari Piring Rancak ini, merupakan tari hiburan dimana biasanya dipakai untuk menghibur hati petani setelah panen. Tari ini adalah gambaran penghidupan masyarakat Minangkabau, terutama petani. Dimana dalam tari tersebut digambarkan semangat juang patani dalam berkerja.

Image

Simbol lilin diatas kepala dan api adalah semangat yang tidak padam. Piring ditangan mengambarkan mencari nafkah untuk kehidupan. Pecahan kaca mengambarkan kehidupan yang pantang menyerah segala rintangan akan dilalui. Selain menampilkan tari piring tim kesenian dengan kreograver Zami Sofa, ini menampilkan Tari Pasabahan, Bagurau, Indang dan Rampah Gandang Tambua, Silek, serta labtunan lagu Ayam Den Lapeh.

Image


Image

Image

Image

Image

Image

Rombongan yang berjumlah 20 orang dipimpin kepala rombongan, kepala dinas Parawisata dan Olah Raga Padang Panjang ZulkarnainHarun, Msi da dan Kabid Parawisata Syaiful Bahri Spd. Usai tim kesenian ini dengan mengunakan mobil langsung pulang ke Padang Panjang.

(Sriwijaya Post/Zainal Piliang)


NoteGuestbook
   
sirtus wrote on Jan 4, '10
walaikumsalam.. salam hormat dan salam kenal pak yai...
buyamasoedabidin wrote on Sep 19, '09
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H,
Minal a'idiina wal fa izina,
kullu 'amin wa antum bi khayr !!!
Mohon maaf atas semua kekhilafan ...
Moga Allah terima puasa kita ...
Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim ...
Amin
Wassalam
Buya HMA
buyamasoedabidin wrote on Sep 19, '09
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H,
Minal a'idiina wal fa izina,
kullu 'amin wa antum bi khayr !!!
Mohon maaf atas semua kekhilafan ...
Moga Allah terima puasa kita ...
Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim ...
Amin
Wassalam
Buya HMA
alnof wrote on Sep 19, '09
Assalamu`alaykum
Buya, seiring dengan momen datangnya IDUL FITRI 1430 H. Alnof dan keluarga besar KMM Mesir mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon Maaf lahir dan bathin. TaqabbaLlahu Minna Wa Minkum. Shalihal a`mal. Minal `Aidin Wal Faizin. Amiin.
Wassalam,
Alnof - KMM Mesir
masoedabidin wrote on Sep 6, '08
Amin Ya Allah Amin,
Terimakasih ananda Badrut Tamam Gaffas,
Namun Buya cemas, sebab terlampau banyak ilmu tetapi tidak beramal sesuai ilmunya itu dikatakan orang bodoh juga, bahkan dzalim terhadap dirinya sendiri.
Moga kita terhindar dari itu,
Selamat melaksanakan puasa Ramadhan Mubarak,
Wassalam
BuyaHMA
badruttamamgaffas wrote on Sep 6, '08
Assalamu'alaikum Buya
E-mail tausyiah Buya tentang Menjaga Hidup Bertetangga sungguh bermanfaat, Insyaallah. Ditunggu tausyiaj - tausyiah berharga lainnya buya di Blog ini.
Semoga Allah senantiasa menganugerahi buya kesehatan, keteguhan jiwa dan kejernihan hati sebagai seorang guru yang senantiasa rela berbagi ilmu, semoga Allah memberikan balasan yang agung di bulan suci yang agung ini.

Wassalam
Muridmu Badrut Tamam Gaffas
masoedabidin wrote on Sep 5, '08
Insyaallah
Nanti buya isi, semoga kita dapat manfaatnya,
Amin
Wassalam
BuyaHMA
badruttamamgaffas wrote on Sep 4, '08
By Badrut Tamam Gaffas

Buya Guruku, di bulan suci ini saya berharap buya berkenan memberikan beberapa tausyiah ramadhan sebagai bekal menjalani madrasah ramadhan
masoedabidin wrote on Aug 11, '08
Alhamdulillah, semakin umur bertambah dalam bilangan'
semakin dekat pintu kubur,
Ya Allah aku tak mampu pulang tanpa bekal,
Nikmat MU sangat banyak sudah kuterima,
sedangkan amalku ya Allah, sedikit sekali,
ampuni aku ya Rabb,
Amiin,
Wassalam,
BuyaHMA
herbudiarto wrote on Aug 11, '08
Assalamu alaikum Buya, Selamat Ulang Tahun, semoga makin taqwa kepada Alloh. Amin
maulaizsyi wrote on Aug 11, '08
assalamu'alaikum...

HapPy MiLaD...., semoga ap2 yg diinginkan ,, dimudahkan oleh Allah SWT.
amin....
masoedabidin wrote on Aug 10, '08
Allahumma a'thy munfiqan khalafan.
Terimakasih ucapan selamatnya,
moga Allah redha dengan umur yg ada dan selalu beri berkah guna berbuat bagi umat banyak,
Amin.
Wassalam
BuyaHMA
wahyutriono wrote on Aug 10, '08
Assalamu'alikum ...met MILAD semoga barokah selalu.
sorayasri wrote on Jul 29, '08
Assalamualaikum....; amiin, makasih untuk doanya ya buya & ummi...
faradisuly wrote on Jul 28, '08
assalamualaikum warwb, ditengah kesibukan buya masih smpet blogging, salam kenal
marhamah wrote on Jul 28, '08
assalamu'alaikum

salam kenal buya ^___^
masoedabidin wrote on Jul 28, '08
Propinsi | Sabtu, 26/07/2008 20:53 WIB

Rakyat Jangan Sampai Pilih Calon Pemimpin Bermasalah

Padang, (ANTARA) - Wakil Ketua Dewan Penasehat Majelis Ulama Indoensia (MUI) Sumatera Barat, Buya H. Mas'oed Abidin, mengimbau masyarakat Sumbar khususnya dan rakyat Indonesia umumnya jangan sampai memilih calon pemimpin (Caleg, Cawako/Cabup, Cagub dan Presiden) yang terlibat pidana korupsi atau pidana lainnya.

"Bila menginginkan tata kelola pemerintahan yang baik, maka kewajiban pertama bagi masyarakat di Indonesia tidak memilih calon pemimpin yang bermasalah," kata Buya Mas'oed Abidin juga Ketua Umum Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Sumbar itu, ketika diminta pandangannya terkait masa kampanye Pemilu 2009 telah dimulai di Padang, Sabtu.

Menurut Buya, kejelian dan ketelitian masyarakat untuk memilih calon pemimpin, baik yang duduk di eksekutif maupun legislatif pada tingkat pusat atau daerah, cukup penting agar tata kelola pemerintahan masa akan datang lebih baik lagi.

Menurut dia, masyarakat harus diberi pembelajaran bagaimana memilih pemimpin yang tidak bermasalah itu.

"Untuk memberikan dan melakukan pembelajaran pada masyarakat idealnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)," katanya.

Namun, lanjutnya, sayangnya sebagian LSM sudah tergadai pula dengan penyedia dana, sehingga jelas tidak akan mampu memberikan pembelajaran demokrasi yang benar.

Oleh karena itu, masyarakat harus pintar memilih calon pemimpin dan setidaknya mengetahui sedikit perjalanan karir para calon pemimpin.

"Jika calon pemimpin sudah jelas bermasalah baik pidana atau moralnya tercoreng, untuk apa dipilih lagi," katanya.

Ia menilai, kalau wakil rakyat duduk di legislatif dan pemimpin di eksekutif sudah punya masalah, jelas tata kelola pemerintahan tidak akan berjalan dengan baik.

Buya Mas'oed Abidin, menilai kekuatan partai politik (parpol) sudah jauh melemah, dimana banyak orientasinya politiknya pada materi, hanya sedikit orientasinya kepada ideologi kebangsaan, sehingga kondisi ini menjadi satu masalah juga.

"Ketika kita mendapatkan pemimpin yang individualis dan materialis, tetapi bukan pemimpin yang idealis dan nasionalis, bagaimana negara akan kuat dan maju," tambahnya.

Menurut dia, untuk konteks Indonesia pemimpin yang dicari, cinta kepada bangsa dan negara, berakhlak mulia, beriman dan bertakwa serta beribadah yang baik.

Nilai-nilai itu, tambah Buya Mas'oed, tidak dapat dielakkan bahkan wajib dipertahankan selama negeri ini bernama NKRI yang berfalsafah Pancasila dan berlambang Bhinneka Tunggal Ika. (SA)
islamahmad wrote on Jul 28, '08
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

nceph wrote on Jul 26, '08
Assalamu alaikum, Buya....
salam kenal dari kami....
terima kasih atas tulisan-tulisan Buya, semoga bisa menambah pemahaman kami
wassalam...
masoedabidin wrote on Jul 24, '08
syeikhahmad.blogspot.com Insya Allah akan buya telusuri,
Akan tetapi banyak maaf, buya sekarang sedang di Tanjung Harapan,
atau Cape Town kampungnya Mandela.
Wassalam,
BuyaHMA
Pages:12345
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.